You are currently browsing the monthly archive for November, 2007.

Terkadang bagi beberapa orang (ilustrator, seniman, designer dll) sketsa terasa sangat penting untuk didokumentasikan. Bagaimana jadinya, nantinya atau hasil akhirnya, yang terpenting adalah memperlihatkan sebuah rekaman perjalanan. Dalam hal ini, sketsa dalam pensil, charcoal, konte atau apapun sebenarnya adalah bagian penting dalam proses penggarapan karya tersebut.

Leesa Leva, memperlihatkan pada kita salah satu keunggulan yang sangat mendasar. Bagaimana dirinya mampu menguasai elemen teknis manual yang sebenarnya sederhana. Bermain dengan medium kertas, pensil, cat air, pensil warna, cat minyak, akrilik dan kanvas, justru memperlihatkan jika dia sebenarnya memang pemain lama yang sudah sangat faham karakter masing-masing medium dan hasilnya. Saya tertarik dengan kesan retro, klasik dan 70’s illustrated yang dimunculkannya, selain gestur objek dan pewarnaan, terkesan penggunaan kertas berwarna krem atau coklat malah menambah daya tarik karyanya. Dan kesan sebagai ilustrasi fashion malah sangat menonjol disini. Sangat ‘cewek’ sekali rasanya, feminin tapi juga nuansa kekinian.

Silahkan nikmati karyanya. Pesan saya; jangan takut untuk menonjolkan pensil dan sketsa sebagai salah satu karya, toh sebagai rekaman dari perjalanan sebuah karya, hal tersebut amatlah sangat penting.

Pemuatan karya ini atas seijin sang seniman. Cek portfolio dan blognya. All images was taken from her site.


El Chupasavia . Character design for a pro-recycling website.

Sederhana. Namun kuat dalam pewarnaan dan karakter objek. Bagi saya karya seorang Ana Galvan (31/F - Murcia/Spain), sangat mencerminkan ‘kewanitaan-nya’. Keseluruhan karyanya menggunakan teknik ilustrasi manual dan digital editing ( ilustrator, freehand dan photoshop). Tapi (saya juga bingung) situsnya menggunakan bahasa Spanyol, terang saja saya tidak mengerti. Tetapi tetap mencerna bahasa gambar, jika teks susah diartikan, saya artikan saja dalam bentuk visual.

Kebanyakan sih karyanya berbentuk ilustrasi, format comic-strip dan kebanyakan bermain di tekstur background dan subdued colours. Tetapi saya pikir penterjemahan visual (dalam opini saya) lebih ke dalam bentuk visual yang ‘cewek banget’ dan rata-rata topik ’seni’ yang sedikit pesimistik. Saya hanya mengingat sedikit banyak kemiripan dengan karya-karya seniman yang berafiliasi dengan Juztapoz Magazine dan saya hanya mencoba merepresentasikan bentuk yang sangat menarik dari karya-karya ilustrasi Ana Galvan kedalam pemahaman.

Rupanya tema yang diangkat dan ujud karya yang pop-surealism sudah mengglobal juga :D:D.

Lihat karyanya :


Mechanics


Illustrations for Ilustraciones fanzine . Inspired by Slochss, a Hidrogenesse’s song

Cek situs karyanya dan blogsitenya : Ana Galvan dan Elmyra Duff

Melukis model orang ber-tattoo, dalam cat minyak. Detil pula + pencahayaan dan pewarnaan yang realis. Wuih!, tak terbayangkan. Tetapi hasilnya jauh lebih mencengangkan. Saya pikir Shawn Barber ini terlalu ber-skill. Aseli ..ber-skill.

Sebagai praktisi seni yang bergerak di banyak bidang yang terkait ( mengajar, web designer, melukis dan studi tentang tattoo), setelah berkarya selama hampir 10 tahun, menghasilkan sekitar 750 buah lukisan baik komersial maupun kepentingan pribadi, ratusan sketsa dan banyak karya mix media lainnya , dia telah bercerita tentang banyak hal. Kecintaan dan proses pembentukan kemampuan melukisnya banyak disadari ketika dia menyelesaikan sekolah seni pada tahun 1995. Disitu dia memiliki keinginan yang kuat tentang berbagai bidang dalam seni.

The tattooed paintings that I’m working on are a mix of my love for the tattoo medium, my interest in the figure, the abstraction of paint, color and line- and the desire to create interesting imagery based of the imagery of tattoo artists whose work that I think is interesting…
———————— diambil dari situs pribadinya.

Shawn Barber, dalam wawancaranya di situs pribadinya, mengatakan elaborasi dirinya adalah yang terpenting dalam karyanya sebagai kecintaan terhadap apa yang diyakininya . Dan yang terpenting dalam hal ini adalah : Proses. Selain keyakinannya tentang orisinalitas dan otentisitas, serta menentang bentuk pencurian visual atau ide berdalih influence.

Melihat karyanya, CV nya dan ‘petuah’ nya tentang keteguhan hati memilih seni sebagai jalan hidupnya, kadang membuat saya malu-malu. Dalam hati saya berdalih infrastruktur negara ini yang belum memberikan penghargaan terhadap seni. Sementara dia berani untuk terus maju dan yakin kecintaannya akan seni dapat menghidupinya. Terbukti, malah membesarkan namanya.

Cek disitus pribadi Shawn Barber.

Akhirnya saya menemukan satu dari beberapa seniman drawing dan ilustrasi yang saat ini menjadi favorit saya.

Karya Yuka Yamaguchi, ini saya temukan ketika membrowse dan mencari data base seniman jepang yang tinggal dan berkarya di Amerika. Setelah melalui proses korespondensi via email, akhirnya saya bisa menuliskan sesuatu tentang karya-karya uniknya ini.

Beberapa poin penting yang saya dapatkan dari galeri karya di websitenya ini, adalah ketertarikan dia soal simbolisasi dari innocence and birth. Tak heran, ibu satu anak kelahiran Kobe yang sekarang tinggal di Saskatoon, Kanada, ini, memang mencitrakan seorang seniman yang kaya akan pemahaman tentang multi kultur, dan jeli mengolah visual yang cerdas dalam karya ilustrasinya.

Senada dengan review di majalah online (entah masih dicetak atau tidak), Juxtapoz , kekuatan yang muncul adalah bagaimana dia mengolah simbol organ tubuh, mimpi, perilaku aneh dan khayalan sang anak-anak(dalam hal ini dia sering menggunakan tokoh ilustrasi anak-anak jepang) dengan dunia imajinasi. Itu secara tematik. Secara teknis memang tidak ada yang baru : cat air, pensil warna, tinta cina, gouache, konte maupun pena .

Namun yang menjadikan dia menarik memang bagaimana dia mengolah ide dan mentransformasikan ke dalam kertas. Lihat bagaimana absurd dan ganjil, perilaku tokoh-tokoh anak-anak yang ada di dalam karyanya. Bagaimana dia memperhalus teknik gambarnya, menghasilkan karya yang clean dan rapih. Sekilas memang tak beda dengan ilustrasi untuk artikel-artikel di majalah dan koran ternama, namun lain cerita ketika karyanya di bungkus dalam frame artwork dan dipamerkan di gallery.

Lain cerita pula jika bisa melihat langsung dibandingkan melihat di monitor komputer anda :D.

Lihat karyanya :


self-portrait, age 17/2006


tough skin, juicy heart/2006


there you are!/2006


my proxy/2006


my first time/2007


meichuu/2007


kubittake/2007

Cek website pribadinya. Copyright: yuka yamaguchi.

Ini salah satu seri dari karya foto (realis) surealis dari Julia Fullerton-Batten. Yang menarik perhatian adalah tentang perbedaan skala yang cukup ekstrim, dan menyelimuti cerita yang muncul dari gambar-gambar ini menjadi sangat unik. Sejujurnya,awalnya saya memang belum terlalu melihat perbedaan mendasar, dengan tema yang hendak diusung, atau seperti fashion fotografi ?, tetapi setelah membaca dan mencoba memahami, ternyata pada dasarnya karya ini bercerita cukup dalam tentang entitas objek yang dalam hal ini adalah manusia. Simak website pribadinya, di bagian portfolionya, ada kecenderungan seragam visual karya yang dingin, pewarnaan yang merata. Tipikal urban modern dari sudut pandang komunikasi sosial saat ini dalam masyarakat barat.

Tadinya saya pikir karya fine-art photography ini melalui proses edit digital. Ternyata tidak, dia memang menggunakan replika diorama miniatur tentang kota-kota besar di dunia seperti yang terdapat di Madurodam, Belanda. Secara teknis, tema yang diajukan menarik juga, penggunaan objek riil dalam background yang kecil. Seperti sesuatu yang bertolak belakang, walaupun itu memang bagian dari ‘isinya’.
Simak ulasan dari web urbanist tentang karya dari Julia Fullerton-Batten ini :

In her Teen Stories image series, Julia has taken typical scenes and individuals and juxtaposed them at strange and incredible scales. This technique, in conjunction with using ordinary people (as opposed to professional models) has enabled her to produce an intentional awkwardness in the posture of the models that enhances visual tension within her photographs. Such work gives a strange new meaning to the terms “street art” and “urban art.”

Serie ini, memang cukup bagus, pewarnaan ( berikut pencahayaan) yang dalam, mengasilkan impact yang cukup kuat. Jujur saja, temanya urban, tapi visualnya sedikit nendang memang. Lihat karyanya :


Broken Eggs/2005/C-Type Prints/Teenage Stories


Beach House/2005/C-Type Prints/Teenage Stories


Milk Bottle/2005/C-Type Prints/Teenage Stories


Bike Accident/2005/C-Type Prints/Teenage Stories


Birdcage/2005/C-Type Prints/Teenage Stories


Girl With Baby/2005/C-Type Prints/Teenage Stories


Blindfold/2005/C-Type Prints/Teenage Stories


Floating in Harbour/2005/C-Type Prints/Teenage Stories

kunjungi situs pribadi dan portfolionya di sini ( foto dan tulisan dimuat atas ijin dari sang seniman).

Judul di awal bahasa Perancis itu artinya The Fall. Terus terang, saya mengalami kesulitan karena referensi tentang Denis Darzacq, yang tadinya saya dapat, adalah situs dirinya dalam bahasa Perancis. Jadi, kalau mau mengartikan konsep yang ditulis langsung oleh dirinya, terus terang saya cuma bisa jawab: wallahualam. Namun, secara yang sudah-sudah, bahasa fotografi adalah bahasa visual (seni) yang melintasi batasan kendala berbahasa, asas berpikir hingga bangsa. Jadi kesimpulannya, ya simak karyanya saja.

Melakukan pengambilan gambar dengan menggunakan para street dancer ( bukan penari latar lagu2 dangdut loh) , melompat, menjejakkan kaki ke dinding dengan pose yang selalu melawan gravitasi atau melayang hanya beberapa inchi di atas tanah dengan pose yang rawan (jika jatuh ya kepala bocor atau patah kaki, terlebih muka benjut), siapa sih yang tidak terkesima?. Dari situs world press photo, ada cuplikan tentang Paris Street Dancer - karya Denis Darzacq, yang bisa disimak disini :

Paris street dancers display their skills at breakdancing, capoeira and other personalized dance forms. Breakdance evolved as part of the hip hop movement among African American youths in New York City in the 1970s, and is arguably the best known of hip hop dance styles. Capoeira is derived from a Brazilian martial art. Although dances may involve a known range of positions or steps, they are unstructured, highly improvisational expressions of individual technique.

Gaya ekstrim , yang dimunculkan oleh para profesional ini, ditangkap dengan jeli oleh Denis. Awalnya saya menyangka mereka melakukan trik dengan menggantung dirinya dengan kabel atau kawat beton yang kemudian biasanya diedit ulang (digital) dengan melakukan pengambilan gambar dengan dua objek secara bersamaan. Ternyata tidak, mereka langsung beraksi. Pada dasarnya, Denis mencoba menangkap keindahan dari sebuah momen yang dibekukan. Sebuah momen yang sangat urban, sebuah pemahaman tentang gerak yang kerap bertolak belakang dalam relasi individu masyarakat (Perancis) yang beraktivitas secara rutin. Dengan mengambil background sudut-sudut kota, Denis telah menaklukan monotonisme - ‘dingin-nya” kota dengan melakukan naluri estetika para street dancer ini. Visual yang liar, mendebarkan, penuh improvisasi dan spontanitas teknik (olah tubuh) yang mengagumkan dalam melawan beban gravitasi.

Saya seperti tertawa geli, ketika World Press Photo menganugerahkan penghargaan kepada Denis, dan meminta klarifikasi nama Dance Company yang menjadi modelnya. Yang empunya karya malah tidak bisa menjelaskan, karena ini adalah kerja kolektif antara seniman dan sekelompok street dancer di Paris. Dan lagi, dirinya memang ingin mengkondisikan situasi yang berbeda, simak katanya :

“I hate this visual idea of Paris as a baguette or Catherine Deneuve carrying a bunch of flowers,That’s why we lost the Olympics. I’d like us to be able to speak of modernity without blushing.”

Itulah modernitas yang hendak disampaikan Denis, dengan jeli dan berhati-hati (untuk tidak membicarakan kerusuhan rasial di Perancis tahun 2005 waktu itu), dia merekam sikap akrobatik para pemuda/pemudi ( yang kebetulan multi etnis tersebut - tipikal sih keturunan para generasi pendatang di Perancis) dan diwujudkan dalam karya yang menarik.

Saya seperti terbayang untuk sambil mendengarkan musik jazz sewaktu melihat karya ini. Walau saya sendiri pecinta musik metal. Yeah! Metal yang penuh dengan ambisi yang bergejolak! toh sama dengan ambisi mereka ini.

Lihat karyanya :

Lihat sumber : web urbanist

Long long time ago sebelum diketemukan yang namanya Photoshop, (halah keminggris), seorang seniman surealis yang merupakan pionir di scene lukis dunia, Salvador Dali, telah melakukan eksplorasi genius tentang kolase visual secara fotografi. Foto yang terinspirasi karya lukisannya dengan judul Dali Atomicus (Dali Atomica Series), yang dibuat pada tahun 1948, semuanya dilakukan secara manual dan waktu take gambar yang terhitung lama (6 jam!) untuk menghasilkan karya jenius (dimasanya) ini.

Bekerja sama dengan Phillipe Halsman, Dali dan Halsman melakukan teknik dan trik seperti menggantungkan kanvasnya dari atas, dan sang istri dari si fotografer tersebut memegang kursinya, 3 ekor kucing yang dilempar ke udara oleh asisten Halsman, (sebanyak 28 kali dalam prosesnya- jangan tanya saya bagaimana nasib sang kucing) berbarengan dengan seember air, dan sang seniman sendiri yang melompat ke udara (berkali-kali dalam proses pengambilan gambar).

Sampai saat ini, karya itu masih dikenang sebagai salah satu karya klasik, dimana fotografi sureal juga mulai dikembangkan di masa itu.

Lihat karyanya :

Cek di situs ini dan galeri foto ini.

It’s about self portraits. Untuk kemudian difoto dengan berbagai pose dan dikombinasikan dalam kanvas dalam warna, gestur dan elemen tambahan rasanya itu sudah lumrah dilakukan oleh seniman dimanapun dan kapanpun. Untuk kasus ini : Monica Cook, rasanya bisa ditenggarai sebagai kepenatannya akan menggunakan medium standar , menggunakan model yang dikhawatirkan mendistraksi ide-idenya, (sendiri sambil berkaca terus melukis sambil melihat dirinya sendiri :D), jadi dia memutuskan mem-foto dirinya dan menggunakan media kanvas sebagai transformasi visual akhir karyanya . Alhasil dengan menggunakan kamera digital, apapun serba mungkin (!).

Monica Cook, selain saya membahas proses karyanya (secara kebanyakan seniman sih) , juga ingin menekankan bagaimana visual yang muncul dalam karyanya. Melukis dalam kebanyakan seniman (rupa) memang merupakan bahasa eksplorasi, bahasa visual yang berbeda sensasinya dengan fotografi. Mengeksplorasi secara riil keadaan sebenarnya dari diri sendiri yang dilukiskan membutuhkan konsentrasi tinggi. Memadukan dengan warna cat tentu berbeda dengan keputusan menekan tombol kamera yang memperhitungkan cahaya juga. Saya melihat ada keberanian dari Monica Cook mempermainkan tone warna (yang hanya dua atau malah tiga ?). Ada kesan dimana munculnya tekanan yang tinggi ketika menggunakan model lukisan (orang lain) yang berarti harus mempertanggung jawabkan relasi kemiripan, ekspresi yang hidup dan lainnya. Sedangkan melukis diri (wajah) sendiri memang ideologi bebas dalam hal ini.

Monica Cook memang serius menggarap detil dalam hal ini. Figur yang dia pilih didominasi oleh gambar-gambar dirinya. Lukisannya belakangan ini cenderung surprise, menggerus keadaan dengan figur objek dirinya secara kontroversial yang dominan, lihat karyanya di sini : “The Pee Girl Series”. Secara sadar dia mencoba mempermainkan kondisi psikologis audien karya-karyanya. Cukup mengejutkan. Dalam bingkai pemahaman saya, karya ini belum mampu dipamerkan di Indonesia, banyak yang masih memandang seni rupa dalam bingkai pemahaman yang lain serta cenderung berseberangan dan tidak nyambung. Namun dalam kacamata barat hal ini biasa saja, cenderung ‘mengumpat secara visual’, namun tak tahulah jika berhadapan dengan kacamata politik kaum fundamentalis di luar sono :D.

Referensi visual yang baik ada dalam karya-karya Monica. Walau kita tak bisa mengesampingkan pengaruh pop art, juga seni lukis barat modern atau kontemporer pertengahan 70-an yang jauh lebih dulu melakukan eksplorasi figur dalam karya, ada kemiripan yang selaras dengan seniman-seniman Asia yang saat ini mulai maju. Melihat karya Monica Cook, saya jadi teringat seorang seniman Indonesia yang cukup terkenal ; Agus Suwage. Ada kemiripan, namun juga berbeda secara apapun.

Lihat sebagian karya Monica Cook :


Untitled 3 (Red Hair)/The Pee Girls Series/2007


Untitled 4 (Microphone)/The Pee Girls Series/2007


Self Portrait 1/Self Portraits Series


Self Portrait2/Self Portraits Series


Self Portrait3/Self Portraits Series

Cek disini : webesteem

Dalam bentuk apapun, seorang seniman, pereka visual, sampai pencari ide gambar akan menggunakan medium apapun dalam menghasilkan karyanya. Dalam kasus ini, bagi beberapa orang menggunakan medium Kamera Polaroid* (wisata ke Pantai, ke Bon-bin, kamera sekali jepret langsung cetak bayar 5000 perak - harga jaman dulu :D), acapkali menghasilkan suatu karya unik yang spontan, polos dan dekat dengan audiens sebagai keseharian. Seperti itulah apa yang hendak disampaikan oleh Piotr Zastróżny, seniman multibakat asal Warsawa, Polandia. Dirinya dalam berbagai perjalanannya keliling dunia selalu membawa perangkat kamera seperti Linhof Master Technika Classic, Leica M7, Polaroid dan Holga.

Ketika saya membrowse namanya dan menemukan karya-karyanya yang menarik dalam websitenya, saya melihat perbedaan yang mendasar. Ketika saya membahas di tulisan sebelumnya tentang cerita-cerita absurd karya fotografi seorang Maleonn Ma, kali ini saya berhadapan dengan seorang yang bekerja berdasarkan kecintaan akan instant result dari sebuah proses mekanisme pengambilan gambar oleh kamera polaroid lawas, dengan kata lain objek tidak berhadapan dengan make up, tata artistik pencahayaan dan lain sebagainya.

Ketika ditanya dalam interviewnya dengan situs ini, Zastróżny, mengatakan beberapa hal yang menjadikannya alasan untuk menggunakan media kamera polaroid ini (karena ini merupakan salah satu keahliannya, dan kebanyakan pada skala teknis) :

1. Hasil yang timbul dari kamera ini memberikan nuansa unik, perspektif yang berbeda dengan gambar yang dihasilkan lewat kamera canggih, kamera klasik sekalipun dengan hasil yang bisa dilihat saat itu juga.

2. Hasil ‘cacat’ yang diinginkan. Menggunakan film yang telah lewat tanggal penggunaannya, penggunaan digital camera pada resolusi tertentu yang menghasilkan gambar buram dan ‘kotor’ malah menghasilkan artistik tertentu yang sangat orisinil. Hasil semakin ‘gagal’ malah semakin bagus baginya.

3. Figur modern yang menjadi terasa lawas, dia mengatakan seakan mengambil gambar di tahun 70′an. Dengan pewarnaan spontan, klasik dan bahkan cendrung tidak cerah, malah menghasilkan karya dengan gambar yang diinginkannya.

4. Dan lainnya, sesuai maunya dia … :D

Dari beberapa kesimpulan yang diterangkan diatas, cuma sebagian kecil dari apa yang saya ketahui tentang pemilihan medium dalam berkarya rupa, apapun itu sudah cukup kuat. Saya yaqin seyaqin-yaqinnya, medium apapun mampu menghasilkan karya seni yang baik, dengan berbagai macam syarat tertentu bagaimana karya itu dapat dipresentasikan ke publik dalam koridor yang terhormat dan berbobot. Tentunya dengan premis seni itu sendiri .

Silahkan lihat beberapa karyanya disini :


Pictures taken from www.piotrzastrozny.com.

* Kamera Polaroid, merupakan produk unggulan dari
Polaroid Corporation.

Cek websitenya disini :
piotrzastrozny | Live in Studio | Blognya | Festus

Saya membahas karya seseorang bernama : Magnus Blomster (30 tahun, kebangsaan Swedia).

Dengan bekerja harian pada bidang yang tidak ada hubungannya dengan creative arts, dirinya lebih senang mentahbiskan dirinya sebagai freelance illustrator. Dalam wawancaranya dalam situs ini, Magnus mengatakan betapa dia merasa tidak bisa belajar pemahaman seni dengan baik, biarpun dia menyelesaikan sekolahnya di bidang desain. Namun mempelajari ilustrasi dan Art Nouveau (kesukaanya sedari kecil), malah dilakukannya setelah lulus kuliah.

Secara teknis : dalam proses beberapa ilustrasinya, Blomster, lebih suka mengolah foto yang sudah ada. Dengan kata lain, model (dalam hal ini adalah pacarnya) yang difoto dengan pose-pose yang telah ditata, kostum dan juga terkadang tanpa busana, diolah dengan software illustrator (Adobe) dengan membentuk outline, dan diprint untuk menghasilkan karya cetak yang kemudian diolah lebih lanjut secara manual (pensil, pena) dan kemudian kembali diolah dalam software Adobe (Photoshop maupun Illustrator) untuk pewarnaan (ink).

Dalam hal ini, pilihan gaya yang dipakai seperti Style Art Nouveau yang dipadu dengan warna-warna sekarang yang cenderung minimalis. Dalam banyak hal sekilas mengingatkan kita akan karya kebanyakan (yang sempat trend tahunan lalu) , trace line dari figur wanita, namun yang menarik disini adalah proses dan hasil yang cenderung berbeda sendiri. Saya teringat pose-pose erotis dari karya-karya Gustav Climnt, cuma dengan cita rasa lebih global sekarang ini.

Beberapa karyanya telah dipakai untuk kepentingan beberapa industri rekaman dan fashion di Swedia. Dan dia sendiri mengatakan tidak terlalu menghiraukan upah yang dia terima untuk mengerjakan karya-karyanya, namun tampaknya dia sangat menyukai objek karyanya (nude female form) untuk selalu diolah.

Silahkan simak karya-karyanya :


Unknown


We Live in a Beautiful World


Pervert


Utopiate

Kunjungi informasi mengenai karyanya di magnusblomster.com (saat ini sedang dibangun)
juga galeri karyanya di : sagenlicht.deviantart.com | rasterized.org

*karya dan tulisan ini dimuat atas seijin yang bersangkutan.

maleonn maSaya akan membahas seorang bernama Maleonn Ma yang merupakan seorang fotografer, juga seorang film-maker. Karyanya yang unik, simbolis, bergerak dalam bingkai teatrikal, naratif , serta metafora objek dan cenderung sureal, seperti menyaksikan karya-karya lukisan surealisme yang di-riil-kan dalam wujud fotografi.

Memasuki wilayah fotografi pada kisaran tahun 2004, pria kelahiran 1970 ini, telah menghasilkan kemajuan yang sangat berarti, selain didukung oleh pengalamannya sebagai Art Director dan Short Video Director mengakibatkan dia seringkali mengkonsepkan diri pada tema narasi cerita.

Memasuki wilayah fotografi adalah sama halnya mematutkan berbagai macam visual yang dibekukan dalam teknik foto untuk berbagai macam kepentingan. Fotografi merupakan salah satu bagian dari rentetan sejarah seni yang terkait dalam bidang penemuan atau invent, terus berkembang sejalan dengan teknologi hingga saat ini.

Fotografi Seni, salah satu acuan tematik karya dari Maleonn Ma ini,seorang seniman fotografi berkebangsaan China yang saat ini tinggal di Shanghai, yang dalam karya-karyanya 3 tahun terakhir ini, sangat eksperimental, penuh nuansa klasik dan tematik, yang terus terang, memang mengagumkan bagi saya sendiri. Informasi yang ingin saya dapat dari website pribadinya, mengakibatkan waktu yang ada dalam upaya membrowsing karya-karya seni lainnya terhenti hanya di situsnya saja.

Saya jadi teringat tokoh-tokoh fotografi dunia seperti Jan Saudek, Alfred Stieglitz, Ansel Adams, Nobuyishi Araki dan masih banyak (bertebaran di wikipedia, coba saja), termasuk termasuk tokoh lawas fotografi Indonesia, seperti Kassian Chepas, Alex dan Frans Mendur, Darwis Triadi, Jez O’Hare, Aries Lim dan lainnya yang masih banyak lagi. Termasuk fotografer Indonesia yang banyak menampilkan karya-karyanya di situs deviantart, flickr maupun website sendiri. Masih banyak seniman fotografi dunia dan Indonesia juga yang menampilkan tema selaras dengan pilihan Maleonn Ma. Tetapi keunikan sang fotografer yang kali ini saya bahas adalah, bagaimana dia mampu menciptakan narasi (seperti film) dengan para pendukungnya yang terdiri dari berbagai macam latar belakang, sutradara, movie-costume designer. Dalam hal ini, Maleonn, menciptakan sensasi visual yang penting dengan mengandalkan otentisitas ras atau figur yang dijadikan objek fotonya, tema yang absurd dan sosok-sosok ganjil dengan cerita men-dehumanisasikan sosok manusia. Dalam hal ini kita jangan melupakan wacana perkembangan seni rupa China yang saat ini sedemikian pesat di kancah Internasional, sehingga memicu negara-negara asia pasifik termasuk indonesia lebih dalam mengeksplor karya dan sounding yang mulai terasa di percaturan internasional.

Bagi saya Maleonn Ma sangat fascinating, tanpa harus mengandalkan opsi pilihan bertemakan urban yang ramai saat ini, sebenarnya karya Maleonn, justru jauh lebih hidup dengan nuansa klasik yang ingin disampaikan. Pewarnaan yang menjadi ciri khasnya, dan editing yang bagus, menghasilkan sebuah karya seni fotografi yang tajam, satir dan cenderung ‘dalam’. Dalam suatu kesempatan, Maleonn mengatakan jika berkarya dengan fotografi, seperti mewartakan dirinya yang ‘baru’ (the word ’self’ come back again into my language - Maleonn Ma) akan kesempatan mengambil gambar (foto), mengolahnya menjadi sebuah gambar artistik yang bercerita, ekspresi diri (menurutnya) dan ide yang cukup bebas, tidak normatif, tidak terikat dengan (secara ide) dengan kepentingan tangan lain. Semua itu lahir dari diri sendiri.

Walau saya yakin masih ada kepentingan komersil untuk cetak, iklan yang juga melirik karya-karya Maleonn, sesuai trah industri dalam fotografi, tetapi apa yang dihasilkannya cukup menarik untuk dijadikan referensi bagus, untuk mengenal fotografi seni ini.

Cuplikan karya Maleonn Ma :


Portrait Of Mephisto (series)/2007


Portrait Of Mephisto (series)/2007


Portrait Of Mephisto (series)/2007


My Circus (series)/2004


My Circus (series)/2004


Unforgivable Children (series)/2005


Chinese Story(series)/2007


Shanghai Baby (series)/2007


Deja Vu (series)/2006

*karya yang dicantumkan dalam tulisan ini dimuat atas ijin sang seniman.

Silahkan kunjungi website Maleonn Ma | Source 1 | Source 2 | Source 3

Karya seni yang baik, terkadang menampilkan sisi cerita muram yang cenderung dalam di karya-karyanya. Ataupun malah menampilkan cerita datar yang bergerak dalam visual. Tetapi alibi ini apapun klasifikasinya, mentah-mentah saja ketika dibahas dalam sebuah bedah karya. Seorang seniman sejatinya merupakan penulis cerita lewat visual yang ditampilkannya. Apapun bentuk karyanya, setiap seniman bertanggung jawab secara banyak sisi, teknis karyanya yang dijabarkan, epistimologi yang ditawarkan, wacana yang diusung, sampai sisi konsepsi karya seni itu sendiri.

Kali ini saya membahas tentang seseorang bernama Camille Rose Garcia. Seorang seniman Los Angeles yang karyanya dikategorikan sebagai Pop Surealis. Dengan menampilkan figur-figur comic dan animasi dan tokoh populer televisi di Amerika sana periode 1950 an. Karyanya menampilkan sosok-sosok kartun, makhluk-makhluk ganjil dengan upaya mengekspos cerita gelap tentang kekerasan, korupsi dan ketamakan. Dengan idiom yang diangkat Camille, sebenarnya, dia bercerita tentang horror di dalam masyarakat urban (contemporary society) - popular culture di Amerika (khususnya L A tempat dia tinggal).

Dalam wawancara yang dicuplik dari situs ini , Camille banyak menampilkan kisah hidupnya, bagaimana kecintaanya akan band-band punk, seperti D.O.A, The Vandals, The Germs dan lain-lainya yang menimbulkan sensasi ketertarikan visual akan image pemberontakan, horror, dan keterpengaruhan akan Los Angeles art- scene semenjak dia melihat karya-karya Mark Ryden, sampai memutuskan berhenti dari band untuk total berkarya seni. Termasuk pandangan politik dia soal keberpihakan pada upaya untuk melakukan pemberontakan sosial lewat karya-karyanya, kompromi karya yang lebih kepada bagaimana seni mampu menunjukkan kaidahnya untuk memiliki tanggung jawab sosial, dan cara pandangnya terhadap scene seni secara global untuk saat ini.

Karyanya (baik lukisan, mainan dan craft) adalah kombinasi, personifikasi cerita, dan kolase dari tokoh-tokoh dari Walt Disney, punk bands seperti Dead Kennedys, ilustrasi tokoh dan teks dari cerita-cerita yang ditulis sci-fi writer Philip K. Dick, atau ilustrasi erotis karya-karya Aubrey Beardsley, mitologi dan fairy tales, visual daripada sebagian Japanese art, termasuk karya-karya ukiyo-e (traditional japanese woodblock prints) dan animasi karya Yoshitomo Nara dan Takashi Murakami.

Barangkali ada baiknya kita mengikuti saran di situs ini. Karya-karya Camille adalah representasi bentuk dari visual gothic yang tragis secara komikal. Yang nampak disitu adalah surealisme a la Camille yang begitu kuat melakukan layering dengan tokoh-tokoh retro yang kebetulan merupakan imaji favoritnya.

Dalam wawancaranya, Camille menyebutkan motivasinya : I always wanted to do art that people could relate to but also carry some social relevance. Dan Camille sadar, dengan konsekuensi yang berpihak pada perlawanan (maklum aja besar di scene punk) , kritik tegas terhadap pemerintah Amerika sampai saat ini, dan penolakan-penolakannya terhadap proyek komersial (yang di mata dia sudah keterlaluan), sepertinya ada relevansi sosial yang diharapkan dari Camille lewat karya-karyanya yang di mata saya cenderung muram dan tragis ini. Pesan yang nampak adalah keberpihakan pada dunia tragis. Apapun bentuknya, sebenarnya dia menceritakan dan merepresentasikan banyak hal soal relasi sosial dunia yang dingin, suram dengan warna-warna lukisannya yang tergambarkan; dark under-tones.

Lihat karya-karya Camille dibawah ini :


“Royal Disorder Subterranean Invasion” / 2006


Escape Velocity/2006


Emergency Transport/Giclee and hand applied gold mica on paper


“Antarctic Suburban Outpost” 2006. Acrylic and glitter on wood, 48 x 48 inches.


“O.N.S. Escape Vehicle ” 2005. Acrylic and glitter on wood, 48 x 48 inches.


“The Deconstructionist Army” 2004


“Arctic Cavern Hideaway” 2005

Karya yang muncul disini ditulis atas ijin yang bersangkutan, dari situs ini : http://www.camillerosegarcia.com/, gambar-gambar lukisanya diambil dari situs ini, tulisan ini juga dimuat disitus blog yang satu ini.


AddThis Social Bookmark Button

Situs Camille Rose Garcia | contact

Fashion freak!

Tahun : April, 20/2007
Teknik : Spidol, stabilo, water color, retouch Adobe Photoshop
Dimensi : 25 cm x 10 cm

Tema :
“Karya ini ingin menampilkan hubungan manusia dengan teknologi yg sedemikian gencar saat ini.. dan saking gencarnya teknologi sudah menjadi sebuah kebutuhan untuk bergaya bahkan sudah menjadi suatu bentuk fashion baruu..dimana2 kita sudah melihat org nongkrong di cafe2 pasti ada yg memakai laptop/note book, walaupun hanya di gunakan untuk chating atau update ‘facebook’.. :P Beberapa item teknologi sudah menjadi seperti kewajiban untuk selalu ‘update’, seperti handphone,notebook,mp3 player, bahkan desktop pun! kl gk, bakalan di bilang ketinggalan jaman alias tidak gaul! (Saya pikir inilah bentuk-red. )Visual karya (yang
-red.) ingin mewakili (konsep-red.)kekinian skrg.. “
(Steve/2007 - ilustrasi di tabloid Kontan)

Bahasan paling utama yang hendak Steve sampaikan pada visual ini adalah : Betapa Gadget (perangkat penunjang teknologi komunikasi dan informasi yang bisa dibawa-bawa kemanapun saja) memang merupakan pilihan perangkat utama bersosialisasi - selain lambang status dan gengsi juga saat ini. Memang apa yang diutarakan Steve disini merupakan simbolisasi dari sebuah pengantar narasi teknologi komunikasi jika manusia sudah mulai memesinkan dirinya. Apa yang dibahas sebenarnya merupakan problematika dan wacana kota besar, sebuah generasi baru yang hidup sehari-hari dalam bersentuhan teknologi.

Perangkat elektronik sebagai gaya hidup, merupakan pilihan primer, sampai sejauh ini. Lihat di perkampungan kumuh sekalipun, sebuah keluarga memang lebih mementingkan televisi sebagai wahana hiburan dibandingkan memiliki biaya buat renovasi kamar, lantai bahkan untuk menunjang perbaikan atap rumah yang bocor sekalipun. Sedangkan pada kelas yang lebih menengah pilihan teknologi bersanding dengan kebutuhan sehari-hari untuk memenuhi tuntutan informasi. Jikalau pada kelas atas ? fungsi gadget, perangkat penunjang komunikasi dan teknologi informasi justru lebih kentara sebagai pelengkap gaya hidup- fashion, hal ini ditandai dengan pertukaran mode dan kecocokan disamping kebutuhan komunikasi dan informasi.

Saya melihat ada misi khusus yang diusung oleh Steve dibalik karyanya ini. Steve memaparkan satu entitas tentang pilihan gaya hidup dengan gadget terkini yang bisa dikategorikan sebagai : TECHNOSEXUAL. Sebuah pilihan gaya hidup berorientasi asas kecintaan dan pemujaan terhadap teknologi terkini, dan berdasarkan orientasi gaya hidup melek teknologi dan haus serapan informasi. Ketika uang berlimpah ditengah hujan ekonomi booming IT periode tahunan lalu, sadar tidak sadar imbas para generasi yang bersentuhan dengan teknologi informasi menjadikan mereka faham dan sadar sekali arus fashion yang bergelombang menuju pemanfaatan perangkat teknologi sebagai penunjang hidup. Toh tidak ada yang salah, dengan kecenderungan memuja perangkat gadget ini sebagai penunjang fashion, gaya hidup, tetapi kita tetap menghargai pilihan mereka tersebut.

* karya ini merupakan hak cipta Steve yang terkait dengan kepemilikan gambar selaku ilustrator di tabloid Kontan dan pernah dimuat sebagai ilustrasi bahasan tulisan yang sama di tabloid yang sama.

Cek soal gadget | Technosexual


AddThis Social Bookmark Button

Kontak Steve | Multiplynya Steve


Setan Komersil/Punjabi’s Attack/2007
Medium : Olah Digital
Dimensi : 640 x 1024 px

Tema :

“Lagi lagi pemuasan visual semata, dengan sedikit mengambil tema menjamurnya film-film yang benar-benar ” MENAKUTKAN (!)“. RP for Rp :D - Giri 2007″

Lucu dan Getir juga memang terkesan konyol. Giri disini mencoba menciptakan nuansa humor. Apa yang dibuat sebenarnya memang sangat citarasa lokal, dengan taste keminggris :D . Secara konteks, visual yang diajukan sebenernya merupakan personifikasi dari ke-muak-annya atas tayangan tak bermutu di televisi akhir-akhir ini. Giri memang berbicara atas nama jemunya konsumen televisi terhadap tayangan tak bermutu baik itu dalam bentuk sinetron dan acara televisi di Indonesia. Masalah langsung muncul ketika nama Raam Punjabi disebut dalam karya ini. Seperti yang sudah-sudah, Multivision Plus dengan Punjabi sebagai nahkodanya, merupakan salah satu penguasa tayangan hiburan di televisi di Indonesia. Sebagai rumah produksi untuk Sinetron, tayangan Infotainment, film-film lokal bertemakan horor Asia (Indonesia), Punjabi sukses mengangkangi singasana tunggal penguasa dan pemproduksi tayangan layar lebar dan televisi di Indonesia.

Masalah yang timbul, selepas bicara kesuksesan Klan Punjabi dan kerabatnya adalah : mutu produk yang dihasilkan. Banyaknya kritik, hinaan, cacian dan bahkan kutukan tak selangkahpun menyurutkan niat Punjabi untuk terus gencar mendorong anak buahnya giat berkarya demi memberikan tontonan di televisi di Indonesia. Walau nada miring akan hasil tayangan yang diproduksi adalah sinetron-sinetron hantu (musiman), orang kaya yang luar biasa kayanya dan cerita kejahatan keluarga yang sangat tidak masuk akal di Indonesia, perselingkuhan sana-sini yang mudah tertebak alurnya. alah satu subjek yang dibahas disini adalah film horror. Horror yang diusung Klan Punjabi adalah horror kebanyakan (gak masuk akal malah) , dengan cerita yang makin lama makin ga mutu , hantu-hantu standar semua, alhasil segala thesis Punjabi jadi mentah ketika dia (katanya) mencoba menyelipkan unsur pendidikan. Bagaimana buat mendidik kalau segala yang ditayangkan adalah tontonan kelas kacang seperti itu. Rupiah untuk rupiah.

Saya jadi ngelantur. Tentang poster art rekaan karya Giri ini adalah pukulan telak tentang keberpihakan Televisi terhadap film atau sinetron horror produksi lokal lewat multivision plus pimpinan Raam Punjabi ( yang berubah nama jadi Junktrash Punjabi :D). Secara ide, mungkin ratusan orang sebelum Giri sudah mencoba menyerang sistematika klan penguasa tayangan sinetron di Indonesia itu, tetapi secara visual, Giri berhasil memberikan surprise senyum lewat humor yang dikemas olehnya. Cobalah main-main ke situs ini, saya yakin apapun yang dihasilkan multivision plus bisa mendapat predikat kancut lima + nanah. Dan Giri bakal kebagian order bikin poster buat mencela perfilman Indonesia yang aneh-aneh di situs itu.


AddThis Social Bookmark Button

Contact Giri | Giri di Friendster

Neraka Jahanam/Savage Hell/2007
Teknik : Olah Digital
Dimensi : 643 x 1024 px

Tema/Konsep :

“Menemukan foto artis UCOK AKA & AHMAD ALBAR di sebuah majalah wanita Indonesia, rasanya sungguh menarik untuk diolah, sekedar pemuasan visual belaka.. - R Giri Fitrajaya/2007″

Sekali lagi, ini adalah buah keseriusan dari fanatisme terhadap hal-hal yang vintage sehingga berbuah kreatif. Menghasilkan kepuasan visual dari seorang pemuja visual dari sebuah grup lawas : Duo Kribo. Bagi yang kurang akrab dengan nama itu, mungkin bisa dimaklumi, adalah Duo Kribo, salah satu superstar rock Indonesia pada medio 70′ an yang mencuat dalam beberapa tembang lawas yang telah melegenda seperti : Neraka Jahanam, Aku Harus Jadi Superstar , Pelacur Tua dan berikut film-film yang laris manis tumpah ruah penonton (di masanya loh!) yang dibintangi dua orang personil Duo Kribo ini : Achmad Albar dan Ucok AKA.

Saya tidak tahu pasti, tetapi fanatisme kuat yang Giri lakukan terhadap sesuatu yang orisinil - Indonesia aseli (seperti karya-karya grafis 70′an), kecintaan terhadap musik lawas, kerap membangkitkan terjemahan karya yang unik, lucu dan menggugah. Kecintaan terhadap visual dan orisinalitas yang membangkitkan kemampuan Giri ‘tuk berkarya akan visual vintage yang unik ini. Intinya asal unik dan lokal, Giri dengan senang hati mengolah lebih lanjut, asal ada bahan hehehe.


AddThis Social Bookmark Button

Contact Giri | Giri di Friendster

Berbicara tentang Surealisme dalam sebuah karya seni lukis, pasti lebih tepat diasosiasikan dalam sebuah penerjemahan visual sebuah mimpi atau khayali sang seniman. Jauh dari itu, dalam konteks pembelajaran tentang seni rupa, genre surealisme adalah sebuah cikal bakal turun temurun yang telah berumur panjang, bagaimana fantasi sebuah dunia yang ideal dimata seseorang dapat diterjemahkan, baik tentang elemen-elemen asburditas, pembengkokan visual, dan efek kejutan yang menghadirkan berbagai macam aspek dalam visual.

Bagaimana dahulu seorang Salvador Dali, telah berkutat dalam dunia yang ‘ideal’ menurut dia, bagaimana Rene Magritte bercerita tentang paradoks makna, ilusi psikologis yang hendak disampaikan sehingga menimbulkan polemik tanpa sekedar menelan bulat-bulat visual yang disampaikan. Bagaimana lekatnya dunia realis dalam paparan imaji yang saling dibengkokkan sehingga menimbulkan sensasi dahsyat tentang cerita-cerita dalam visual dunia fantasi. Masih ada Max Ernst, Joan Miro, Escher dan sebagainya.

Kali ini yang ditulis disini; Jacek Yerka. Generasi Surealis era sekarang, kelahiran 1952 di Polandia. Pampangan karaynya disini menjadi terasa penting ketika dia mulai menambahkan idiom khayali, cerita kisah dan angan-angan masa kecil yang ternyata sangat berpengaruh terhadap visual lukisannya. Bagi saya, mungkin seniman-seniman negara dunia ketiga, bahkan di Indonesia lebih banyak lagi dengan membawa pengaruh fantasi dan mimpi ‘mistis’nya kedalam kanvasnya, namun secara harafiah dari apa yang saya lihat, karya Yacek Jerka malah memberi cerita fantasi, seperti ilustrasi dari sebuah cerita dunia yang bersambung dalam setiap lukisannya. Saya tidak tahu, tetapi bagi saya, Jacek Yerka cocok sekali membuat buku cerita visual fantasi . Saya jadi teringat karya-karya Frank Frazetta, yang hampir semuanya berkisar tentang pejuang pria dan wanita kekar di jaman medieval yang selalu bertarung dengan monster-monster, mungkin jauh juga dalam frame garda seni, tetapi secara garis besar kemiripan itu selalu tersirat.

Poin penting dari sebuah detail visual, garis, bentuk benda, terlihat dalam karya-karyanya yang semuanya menggunakan medium akrilik, oil on canvas, pastel dan giclee (zhee-clay) - sebuah cetak digital ke atas kanvas, ataupun kertas. Sekali lagi Jacek Yerka memang menterjemahkan fantasi dengan sangat mengagumkan. Tema visual yang selalu hampir seragam adalah bagaimana menterjemahkan bentuk organis (monster, kerang, hewan reptil) kedalam bentuk mekanis dan masif (mesin, rumah dan alat teknis).

Mungkin jauh secara ide dan persoalan yang hendak disampaikan Yerka, dibandingkan para penggagas seni visual dunia mimpi ini, tetapi dalam konteks sekarang persoalan visual lewat manual tetap memberikan greget tersendiri, upaya tersendiri yang memberikan penghargaan terhadap potensi berpikir (khayal) manusia.

Lihat Karyanya :


“An Uninhabited Island”


“The City is Landing”


“The Landscape Cutter”


“The Riders of Chaos”


“The Stone and the Brick”


“The Sargass Sea Bishop”


“The Walking Lesson”


“Brontosaurus Civitas”

Silakan lihat website Jacek Yerka di halaman ini : Jacek Yerka and Dark Roasted Blend about Fascinating World of Jacek Yerka.

Semua gambar dan tulisan tentang Jacek Yerka, dimuat atas ijin pihak berwenang dan diarahkan ke situs http://www.yerkaland.com dan situs http://www.yerka.pl

Tulisan ini juga dimuat di situs blog yang satu lagi.

AddThis Social Bookmark Button

Perang Melawan Hawa Nafsu /War Against Appetite/2005
Oil on Canvas/120 x 130 cm

Konsep :
Dalam konteks Agama , hingga saat ini, hawa nafsu merupakan musuh yang paling sulit untuk ditaklukan. Dia akan waspada setiap saat untuk mencari celah menghancurkan keimanan manusia, dia terlahir dan terpelihara beserta akal budi dan nurani kemanusiaan. Seperti layaknya vaksin, dibutuhkan untuk menjalankan insting bertahan, namun dijauhkan ketika dia mulai menghancurkan hidup dan masa depan manusia.

Perang adalah alter ego manusia ketika menjadi iblis, menghancurkan umat lain yang berseberangan pendapat, dengan menjadi iblis yang disemai oleh hawa nafsu tergelap manusia.

Bagaimana dengan syahwat? naluri manusia soal yang ini sudah setua umur kaum manusia itu sendiri, terlahir dengan tujuan bereproduksi dan di era sekarang sudah di modifikasi menjadi kebutuhan penunjang hidup manusia.

Masih lekat dengan visual sebelumnya, tema yang diulas Dhani sebenarnya sederhana, terkait secara tematik gambar dengan konten lokal soal perang perjuangan yang diterapkan dalam lukisannya, pejuang kemerdekaan republik Indonesia yang sudah uzur yang sedang membuka surat kabar . Masih ditambah dengan latar belakang suasana medan peperangan, bagi sebuah penyajian gambar, ini adalah sebuah parodi satir yang menancap di benak para penikmat karya Dhani setelah membaca teks yang terletak di bagian atas dan bawah lukisan ini.

Satir, ungkapan yang pedih sebenarnya namun kelam dan dalam ketika didedah secara tekstual. Secara serius, sang seniman mengatakan, pesan ini adalah untuk semua orang yang sedang bertarung melawan hawa nafsu, demi menjadikan diri yang lebih baik .


AddThis Social Bookmark Button

Dhani Santjok | Galeri Dhani di DeviantArt

TI

Terlambat Insyaf/Too Late For Repent /2005

Oil on Canvas
120 x 130 cm

Tema :
Seperti komik murahan ? Komik yang bercerita tentang surga neraka ? poster film lawas ? Gambar di belakang truk kayu yang sering lewat di jalan tol atau pelabuhan ?

Bukan , ini adalah kesadaran untuk bertobat (ini serius! - Dhani) merupakan pilihan konsep perupaan salah satu seniman muda berbakat yang telah dikaruniai seorang anak ini. Karya yang sedianya dibuat dalam ujian kelulusan sarjana ini, merupakan salah satu sisi estetika religius yang coba diungkap sang seniman, Dhani Santjok dalam wujud lukisan di atas kanvas.

Terinspirasi oleh sinetron-sinetron bertemakan Hidayah yang kerap ditayangkan di televisi, cover-cover majalah hidayah, Dhani sekali lagi mengungkapkan suatu bentuk gaya visual yang telah lama dilupakan para praktisi modern seni rupa era sekarang. Era eklektik visual yang cukup dominan mengakibatkan kita seringkali leluasa mengambil ujud yang tak terduga. Pengaruh gaya kitschy, estetika grass-root (masyarakat lapisan bawah) justru malah menampilkan cita rasa lebih yang jauh lebih ‘nyaman’ dalam berkomunikasi, dibanding sekedar memampangkan simbol-simbol modern yang labur untuk diapresiasi dan malah menghilangkan konsep kuat yang hendak dipaparkan. Pada prinsipnya, Dhani mencoba mengkomunikasikan tema kesadaran secara gamblang, konsekuensi melakukan dosa sehingga direngut oleh kematian disaat dia belum bertobat. Dengan ujud yang sekilas mencerminkan visual ‘heresy’ dengan wajah setan ( referensi lokal) yang hendak melahap sang pendosa ketika kematiannya baru saja menghampiri, Dhani sebenarnya mencoba bertutur kata serius tentang hal ini.


AddThis Social Bookmark Button

Dhani Santjok | Galeri Dhani di DeviantArt

Apa itu Grotesque ?
When used in conversation, grotesque commonly means strange, fantastic, ugly or bizarre, and thus is often used to describe weird shapes and distorted forms such as Halloween masks or gargoyles on churches.

Sumber dari Wikipedia

Battling of the Demons Mind. Sebuah karya dengan visual yang menyeramkan, malah menjadi acuan seorang Kris Kuksi, untuk menciptakan perupaan yang memiliki sensasi visual unik dalam bentuk dunia yang ganjil, menyimpang dan menyeramkan dan lebih di kategorikan sebagai elemen-elemen visual Grotesque.

Dengan elemen bahan mainan, penggabungan bentuk klasik, buruk rupa dan menjijikkan sampai ujud terpusat atau simetris , Kuksi dengan jeli meramu itu semua. Dengan medium karya mix media, beberapa ujud yang menyeramkan malah menjadi indah. Unik. Karya Kuksi, malah menceritakan sebuah dunia ganjil, dengan meminjam idiom-idiom gothic seperti Gargoyles, pencitraan 3 dimensi dari karya-karya Hieronymus Bosch, pemvisualan Call of Cthulhu-nya - Lovecraft, serta dimensi horor Clive Barker. Seorang Marylin Manson juga pernah mendalami tema Grotesque ini pada salah satu albumnya.

Saya teringat sosok HR Giger yang menciptakan dunia Alien dalam karya-karyanya. Bedanya, Kuksi kembali mendalami visual dari era yang lebih klasik.

Karya ini seperti berbicara tentang kematian, kegelapan yang abadi, sebuah teater absurd dari makhluk-makhluk ganjil yang mendiami dunia mereka. Kuksi memang berbicara visual diantara ratusan seniman yang tertarik pada objek yang sama, dia mempunyai nilai lebih akan kecintaanya pada jenis visual horor grotesque.

Dalam keterangan di websitenya, Kuksi menampilkan material yang dibangun dari mainan murahan, sampai miniatur objek yang dibeli terpisah, kitschy object, molded-injection, bunga plastik dan boneka-boneka, tengkorak rekaan yang diolah kembali dengan pewarnaan (yang terus terang memang brilian) yang suram, seperti yang tercermin dari karya-karyanya.

Tema yang berbicara tentang kematian, esensi artistik dari elemen-elemen kematian dalam sebuah dunia ganjil, dengan cermat memberikan kita pemahaman akan potensi artistik individual yang muncul sebagai respon dari paradoks tentang kematian.

Lihat karya-karya Kuksi :

7deadly sins
7 Deadly Sins/Mix Media/2007

The New Divinity
A New Divinity/Mix Media/2007

Macabre ride
Macabre Ride/Mix Media/2007


Original Sin/Mix Media/2007

Kunjungi karya-karya Kuksi di situs yang tercantum pada link di bawah ini.

*Pencantuman karya-karya dilakukan atas seijin individu yang bersangkutan di website kuksi.com

Tulisan ini juga di muat di situs : Blognya Yudi

AddThis Social Bookmark Button

Link : Kris Kuksi , Dark Roasted Blend

ironic love

paradox cinta
Ironic Love/Paradox Love 2007
Medium : paper/Tinta
Teknik : Drawing

Konsepsi :

“…ketika mencintai dalam kepura-puraan..maka output-nya menjadi sesuatu yg ironis..” (Riyanto/2007)

Begitulah apa yang Riyanto katakan dalam karyanya ini. Dia mencoba memaparkan kenisbian; niscaya akan cinta yang tunggal serta sesuatu akan karma. Otomatis seperti sekedar menyuarakan isi hatinya yang sedang sedih karena cinta. Apapun alasannya, goresan pena merupakan isi hati jiwa. :D


AddThis Social Bookmark Button

Riyanto/Portfolio

Face
Face/2007

Paper/Ink/Pen

Tema/Konsep:

“…ternyata visual wajah menentukan takdir setiap manusia…” ( Riyanto, 2007)

Sebuah pertunjukan motorik untuk memaknai bentuk, garis dan objek wajah. Kita bisa lihat berbagai macam tampilan wajah ( yang cukup terkenal seperti Marx dan Mandela) yang sambung menyambung dengan ornamen dan gaya lawas (drawing art 70′an). Dalam hal ini Riyanto tetap konsisten dengan gaya, upaya dan tujuan visual yang telah ada.


AddThis Social Bookmark Button

Riyanto / Portfolio

Warning Sign

Warning Sign/2005
Dimensi : 24 x 21.7 cm
Medium : Kertas Concord, Spidol, Pensil, Tinta Hitam dan Stabilo
Teknik : Drawing

Tema:
Drawing ini dibuat pada sekitar tahun 2005, ketika saya sedang berjuang menuntaskan thesis saya. Tematik, sekedar iseng dan pada akhirnya karya itu di pamerkan dalam bentuk yang layak, setelah diberi bingkai .


AddThis Social Bookmark Button

Wahyudi Pratama

Untitled 3
Untitled 5

Untitled 2/Untitled 3/2006
Dimensi Asli : 850 x 300 px/800 x 800 px
Teknik : kolase Photoshop
Medium : Digital

Tema :
Seperti karya sebelumnya, lebih menekankan pada utak-atik gathuk visual yang menyebabkan layout presisi dan lebih ‘kekinian’. Tema tak jauh dari visual yang ‘rough’, stensilan dan amat ‘distro’. Sudah dipergunakan untuk header blog saya.


AddThis Social Bookmark Button

Wahyudi Pratama

Untitled 1 Untitled 2
Untitled/2006
medium : digital
teknik : Kolase Adobe

Tema :
Masih berkisar pada ketertarikan visual editing dengan tool Adobe. Sepertinya masih berkisar pada pengolahan foto wajah, visual ’sampah’ yang dianggap bergestur keren dan unik. Sejujurnya, niatan saya karya ini di transformasikan ke dalam kanvas lukisan, dengan harapan, lebih ‘nendang’.


AddThis Social Bookmark Button

Wahyudi Pratama

Halo,

Kami adalah wadah pertemanan dari beberapa rekan seniman yang ada di Bandung.

Di sini kami menyajikan beberapa karya -karya seni yang telah didokumentasikan secara digital (foto digital, video dll) sejauh ini dan akan diupdate setiap saat. Beberapa seniman dari kami yang kebetulan berdomisili di kota Bandung, akan memperlihatkan karya-karya kami, baik itu berupa lukisan, dokumentasi sculpture, drawing, digital painting, installation art, dll.

Karya-karya yang di pamerkan akan disesuaikan dengan kebutuhan nama sang seniman , keterangan tentang konsep karya , tahun pembuatan, termasuk juga bidodata seniman dan medium karya yang digunakan.

Baik yang serius maupun iseng.

salam

mindstreet.wordpress.com