You are currently browsing the monthly archive for December, 2007.


Ini adalah sebuah wawancara mindstreet dengan Nani, seorang scenester art, Desainer Grafis, Artistik Enthusiast, apapun namanya, yang sudah lumayan lama saya kenal dari dunia maya. Dia juga seniwati , seniman/desainer dari Surabaya yang sedikit cukup aktif dan lumayan sering berpameran kelompok. Baru-baru ini dia telah melakukan solo exhibition yang (katanya sih sukses :)) cukup sukses. Check saja di sitenya disini : designani. Pada akhirnya, saya berhasil mengumpulkan waktu yang terserak disela-sela aktifitas padat saya untuk mewawancarai dirinya via email (!) seputar karya dan pandangannya tentang aktivitas berkesenian sekarang. Berikut hasil wawancara yang telah saya kumpulkan :

1. Bisa diceritain gak, sekilas biografi, background pendidikan kamu ?? dan kenapa kamu terjebak di dunia artistik seperti ini :D
Baru graduate September 2007 sebagai Bachelor of Visual Communication Design di UKPetra Surabaya. Hhhmm…mulai terjebak,terjebak, Saya benar2 sudah terjebak dari dulu ,tapi belum menyadari bahwa itu berkaitan dengan namanya seni, waktu kecil saya suka coret2 dimanapun, daripada ditangkap, saudara mengusulkan untuk sekolah dijurusan DKV yang waktu itu masih tergolong baru di sby. Dan untuk dunia artistik, itu berdasarkan pikiran saya yang sudah absurd, waktu kecil saya suka berkhayal, mengarang, senang melihat bentukan2 aneh…’feel’nya keluar begitu saja
.

2. Gue tertarik sama karya kamu , graphic novel (buku seni) yang judulnya, Murus. Ada hal yang spesial tentang itu ? baik pemilihan tema atau konsep visual ? and what technique ?ada keinginan buat dipublikasikan seperti dicetak atau bahkan diperbesar dan dibagi dalam beberapa caption, ceritakan saja :)
Murus dalam bahasa latin berarti dinding,asal kata Mural. Murus sendiri terdiri dari dua bagian dimana pertama bercerita anak bernama Tole yang trauma terhadap dinding karena disembunyikan oleh ibunya ketika bekerja sebagai wanita penghibur dan cerita tentang mereka yang diwakili oleh Boi pemuda dengan kehidupan keluarga yang berantakan. Kedua cerita ini berkaitan,mengangkat fenomena2 sosial seperti perselingkuhan, vandalisme, pelacuran, pengorbanan, kerja sama. Bahasa verbalnya mengunakan ungkapan-ungkapan yang bersifat personifikasi, metafora maupun narasi serta beberapa puisi untuk melengkapi visualnya. Sedangkan tekniknya adalah sketsa,cat air dan penggolahan digital. Ditambah dengan pewarnaan kusam dan kotor.Sedang mencari penerbit, mungkin ada masukan bagus? tentunya saya berharap buku ini menjadi wacana yang berbeda diantara trend novel-novel remaja yang sedang bergejolak.



3.
To the point aja, bagaimana pendapat kamu secara saat ini batasan art dan desain lebur dalam periode sekarang, sehingga di masyarakat maju (modern) penerimaan tentang hal ini sudah lumayan apresiatif. Sedangkan dalam konteks akademis, wacana ini sudah dianggap lumrah, dan bahkan menjadi salah satu mata kuliah tersendiri.
Saya tidak akan berbicara banyak mengenai hal ini. Mengenai batasan-batasan seni dan desain, siapa yang tahu. Saya pikir semakin ada batasan, semakin kita terkungkung. Namun yang terjadi di Indonesia adalah mengenai kurangnya tanggapan khalayak terhadap art itu sendiri. Para seniman bahkan memilih berkarya dinegeri orang untuk mendapat lebih pengakuan.

4. Gue liat gejala dan gerak yang hampir seragam antara scene bandung, yogya dan surabaya ( kota-kota besar yang memiliki akses informasi global dan pendidikan seni yang terstruktur), kalo seni dalam aplikasi apapun ( street art, grafiti, drawing, ilustrasi distro, sneaker art, stencil art dll dll dll) menjadi banal (alias biasa) karena penerimaan masyarakat yang cenderung terbuka. Bagaimana pendapat loe ? apakah ini emang suatu trend karena pengaruh media dan informasi ? atau memang keharusan sebagai generasi ( yang bercita rasa artistik) sekarang ?
Semua berperan baik. Saat ini fenomena yang terjadi banyak anak2 muda Indonesia yang menjadikan kegiatan2 tersebut bagian dari lifestyle. Mereka mengikuti arus trend dari luarnegeri. Referensi dan internet sangat mempermudah untuk melihat perkembangan artistik di sana. Dibuktikan mulai muncul banyak pameran, kegiatan, komunitas2 bahkan kompetisi yang benar2 menyemarakan.

5. Apakah saat ini di kamu selalu merasakan ‘beban’ konseptual kalau berkarya ? dengan kata lain, motorik aja bikin karya trus baru mikir ? atau so be it , serahkanlah pada kurator yang berbicara nantinya ?
Kata ‘konseptual’ lebih saya tekankan pada profesi saya sebagai designer graphic, dimana saya bekerja dengan client dan menekankan komunikasi. Disana terkadang muncul kejenuhan dengan semua yang berkonsep dan akhirnya mengeluarkan idealisme saya dalam seni. Namun karya tanpa makna dan pesan adalah kosong. Walaupun keabsurdan saya tidak dimengerti oleh orang awam, tetapi ketika mereka bertanya,saya akan senang hati untuk menjawab apa makna dibalik karya saya. Dan kurator yang berbicara tentu juga mendengar dari sudut pandang saya.

6. Mural pada solo exhibition kamu, bagus juga. Ramai namun seragam, intinya sih rapih. Sepertinya kamu bisa lebih ‘buas’ kalo berkarya di area/medium yang lebih luas. Bisa jelaskan kenapa tertarik dengan medium yang dimensinya kecil dan teknik yang konvensional (cat air, atau teknik lain yang umum dalam ilustrasi). Dengan lokasi di sebuah distro, kemungkinan menjual itu ada. Dengan kata lain, dalam kemasan artistik macam apapun, kamu bisa ‘jualan’ sebenarnya :)
Beragam media dan tekniknya saya tidak akan membatasi. Bisa dicoba semua. Cat air, acrylic, crayon, kolase, apapun itu. Intinya saya memilih fleksibel terhadap semuanya.

7. Ada keinginan buat terus berkarya gak ? berpameran dengan seniman-seniman Pop Surealis yang jadi mega-star di majalah Juxtapoz, pameran di La Luz de Jesus Gallery? Saya yakin ada jalan buat menuju sana. ( semoga ga mimpi ya menembus pasar seni di Amerika :))
Teruuuuus….kecuali saya tidur. Heehehuhe..Masih banyak yang harus dikerjakan untuk mencapai semuanya. Semoga karya saya bisa terpajang di gallery-gallery luar negeri sana.Bolehlah sekalian memajang impian.

8. Ini pertanyaan terakhir sebelum selesai, Karya kamu itu ‘girly’ banget. Emosi dan aspek ketertarikan digambarkan disitu, saya harap kamu tidak stress dan ‘kelam’ terus berkarya brilian sebelum mati di usia muda :D . Apa kamu ga tertarik dengan eksplorasi medium yang lebih lanjut seperti sculpture, big mural, instalasi dan lainnya ??
Selagi usia muda banyak kesempatan. Seperti saya bilang tadi, apapun mediumnya saya selalu tertarik untuk mencicipinya.

9. Kamu punya pesan gak buat seniman-seniman tenar di sono :D??
Terus berkarya dan selalu memberikan saya inspirasi, kalau ada waktu mari kita ke dufan bareng…hehehe

Sekian tulisan ini dan kita nantikan saja, keuletan dan keseriusan dirinya akan menghasilkan sesuatu yang terlahir dalam bentuk karya yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan dengan utuh.

Silahkan kunjungi blognya di sini : http://designani.blogspot.com/, gambar diambil dari situsnya.

Through Death United
91″ h 35″ w 13″ d
mixed media assemblage
2007

Masih mengandalkan teknik dan media yang sama. Namun kali ini sepertinya lebih besar dari yang saya perkirakan. Di posting sebelumnya, dan dengan karya ini, masih merupakan seri yang sama. Sekali lagi otentisitas dan konsentrasinya masih berbuah hasil yang luar biasa. Tunggu saja karya-karya terbaru dari Kris Kuksi.

visit : kuksi.com

Biodata tentang dirinya, saya cuplik dari website dirinya :

About: MUNK ONE a.k.a. Jose A. Mercado is a contemporary American Illustrator and Fine artist. He is most noted for creating Artwork for bands such as Korn, Avenged Sevenfold, My Chemical Romance, The Generators and many more who’s merchandise can be seen through out the world. He is also known for his Fine Art which has been gaining more and more attention with no signs of slowing.

Lihat websitenya dan karya-karya ilustrasinya adalah parade simbol kecintaan sang seniman terhadap apa yang menjadi hobinya.

Bagi saya karya Jose a.k.a MUNK ONE ini, bukti nyata dari otentisitas pegaulan, keterpengaruhan dan sekali lagi, dirinya memang anak jaman. Kultur yang dekat dengan apapun yang bersifat eklektik, simbol eksotisme tengkorak manusia yang dimodifikasi - lekat dengan simbolisasi rock, sekilas seperti Trash (metal) artwork - old skool, beberapa eksotisme dunia politik dan religius di India, figur pemberontak Zapatta di Meksiko, visual zombie film-film Romero, ilustrasi untuk skateboard dan lain sebagainya. Keterpengaruhan menunjukkan karyanya. Ada semacam pemeo yang lazim, bahwa saat ini memang seharusnya influence berkarya lebih bersifat literatur dan memilih konten yang baik, dengan mengamati karya seniman lainnya, penerimaan pengaruh atas hobi atau interest, sehingga apapun keterpengaruhan yang terlukis dalam karya-karyanya itu menunjukkan identitas awalnya sehingga biasanya berkembang menuju style yang otentik - walau saya tidak memungkiri banyak seniman-seniman Los Angeles, korporasi a la Juztapoz yang identik dengan gaya MUNK ONE ini.

Saya mencoba melihat keterhubungan dirinya, karyanya dengan periode seni jalanan, graffiti, skate art, band-band rock yang menggunakan jasanya untuk ilustrasi cover rekamannya dan poster pertunjukan. Saya melihat karyanya memang figuratif dan dekat dengan kemasan saat ini. Simbolis dan asiknya, bisa dipakai dimana saja, baik untuk fine art, cover rekaman bahkan sampai ke stiker :D.

Karyanya bagi saya cukup menghibur. Saya pikir dia memang mewakili jamannya, saat ini. Saat berkorespondensi dengannya via email sekalipun, masih menggunakan nama alias hehehe.

Simak karyanya di websitenya di sini. Karya yang ditampilkan disini atas seijin MUNK ONE sendiri, silahkan kontak untuk mengetahui lebih lanjut.


“The Plague Parade: Opus 1″/ mixed media assemblage
38″ h x 13″ w x 29″ d/ 2007

Salah satu karya terbaru dari Kris yang saya terima dari email. Rasanya dia masih konsisten untuk menggarap tema-tema grotesque. Karya terbarunya ini masih dipamerkan di Miami, sampai saat ini, dan belum dipublikasikan di websitenya. Di posting sebelumnya, Kris Kuksi membangun nuansa horror dan klasik yang terpola secara simetris tersimak seperti karya-karyanya yang masih konsisten menggunakan mixed media. Untuk saat ini. sepertinya merupakan pola lanjutan dari karya sebelumnya, dia (masih) terpesona oleh bentuk-bentuk konstruktif, peradaban dan fantasi horror - visual yang sedikit menakutkan. Belum lagi seri karya-karyanya yang menggunakan elemen tulang-belulang, tengkorak manusia.

Saya seperti melihat replika Gulliver dan manusia liliput dalam berbagai seri:D.

Featured at the ‘FAME’ collective event in Miami this week alongside Art Basel. Please contact Josh Liner at josh@lineagegallery.com for more information.

visit his website at www.kuksi.com

Sebagai seorang seniman senior yang sudah kenyang akan persepsi visual dan pengalaman, rasanya tidak heran ketika berkarya dengan media campuran dan mengambil brand sebagai tema kekaryaanya, dengan muatan populer. Tergantung, siapa yang di’serang’ olehnya. Dalam karya (keren) yang ini, dirinya terang-terangan menyerang dominasi konsumerisme dan menggunakan elemen yang bertolak belakang dalam menyerang fashion dan culture street.


Chanel Chainsaw (199 8) / Mix media

Lihat karyanya yang menggunakan material campuran dari branding aseli produk seperti Chanel, Prada dan lainnya seperti McDonald. Karya yang secara telak menerjang sifat konsumtif, penyembahan uang, comercial imagery dan gaya hidup berkelas, menjadi sebuah pendedahan wacana yang menarik. Sekilas wacana yang saya ungkap sepertinya sedikit bias, seandainya saya bisa berbicara langsung dengan Tom Sachs. Dalam hal ini, Tom Sachs seperti semua orang yang menempuh politik sayap kanan atau kiri, namun bedanya dia menumpahkan idenya dengan berkarya. Karya seni memang selalu bergerak unggul menemukan tema yang sangat kondisional, karena dia adalah ujud cerminan dinamika masyarakat saat ini. Dan visual karyanya, sangat sadis, menimbulkan esensi yang menyeramkan. Hey, siapa yang menyangka membuat gergaji mesin dan mesin guillotine dari foamcore dan kulit imitasi?

Tapi sejujurnya, sepertinya Kapitalisme, selalu menjadi musuh yang baik bagi semua orang :), terutama orang-orang yang kritis.

Left : Prada Toilet , Right : Chanel Guillotine (Breakfast Nook)

Check sitenya di sini.

Seorang Bruno 9Li , adalah seniman dengan extraordinary talent, serius. Lihat karyanya, dan kita akan membicarakan sekilas karya dari seniman yang saat ini berdomisili di Sao Paulo, Brazil.

Saya seperti melihat kombinasi ilustrasi figur jepang kuno, khas seni rupa latin, vinyet (ilustrasi artikel di koran tahun 70 an yang simetris) , bentuk dan citarasa Art Nouveau dengan paduan geometris vector yang banyak dibuat dalam perangkat lunak seperti Corel, Adobe dan lainnya. Namun jujur saja, saya malah terkagum-kagum dengan karyanya, yang terus terang, bagi saya, dia sangat detil dan rapih. Sangat ilustratif, penuh dengan simbol-simbol yang biasa dipakai dalam karya ilustrasi, tapi juga ketika menuangkannya ke bidang yang lebih besar seperti kanvas ataupun panel.

Seperti lazimnya seniman visual sekarang, pengaruh dan sumbangsih media menentukan figur, sosok bahkan pilihan warna yang dihadapkan, karya Bruno saya nyatakan : keren abis. Bukan sekedar visual, tapi ketelatenan karya yang dihasilkan oleh Bruno 9Li ini memang mengagumkan bagi siapapun (penikmat seni). Di usia yang terhitung muda, 27 tahun, dia sudah berani berkreasi dan dilirik pasar Amerika.

Saya sendiri jadi asik sendiri melihat karyanya yang nyatanya sangat inspiratif.

Lihat karyanya :


Aurora


Renova Eterno


See From here


Flood

Lihat juga foto-foto pameran perdana karyanya di Amerika 5 bulan yang lalu di sini dan sini. Gambar diambil dari situs ini.

Sebuah buku ilustrasi arsitektural masa depan yang dikarang oleh Hugh Ferriss (1889-1962) , pada tahun 1929, dengan judul The Metropolis of Tomorrow, menunjukkan sebuah imajinasi akan bentuk kota, tata ruang impian untuk yang akan datang. Mungkin ada baiknya daripada saya berpanjang-panjang, saya bilang saja ini Konsep retro-future, dan malah sedikit terlihat seperti yang terangkum dalam film-film Batman sekarang - dengan berbagai modifikasi tentunya. Gotham City. Saya pikir sih tadinya, ini merupakan impian dirinya akan wajah masa depan Amerika nantinya.

Awalnya saya tidak menyangka, namun ketertarikan saya dengan konsep retro-future yang sangat naif, malah memberikan pemahaman bahwa : idealnya imajinasi akan lanskap dan teknologi canggih memang mewarnai pemikiran para futuris-ilustrator di masa lampau. Seperti idealnya bentuk-kotak besi yang tak bersudut tajam, bulat dan antena-antena transmisi gelombang dimana-mana. Namun ada yang menarik, dari ilustrasi arsitektural karya Hugh Ferriss ini , bentuk hitam putih dan konsep gigantik, banyaknya gedung tinggi menjulang yang menjelma jadi statue kota, dingin dan kaku dengan bentuk masif memang memanjakan imajinasi para futuris masa lampau yang cenderung mengesampingkan sisi ideal tentang lingkungan.

Setelah melihat karya Ferriss - yang nota bene merupakan salah satu arsitektur berpengaruh di Amerika, saya kagum akan imajinasi mereka saat itu. Kemudian saya melihat saat ini, dimana (katakanlah) negara seperti Jepang dengan konsep robot dan personal hi-tech, transportasi canggih dalam bentuk prototype yang sudah diluncurkan, berbanding kontras dengan kondisi lingkungan yang awut-awutan akibat pembangunan kota (seperti yang Ferriss bayangkan) kehancuran alam, pemusnahan hutan dan perilaku beringas manusia di mana-mana membuat saya jadi malas membayangkan masa depan. Iya kalo makin maju, kalo makin suram ?

Simak review dari situs ini :
As Michael Mallow puts it: “By the mid-twenties, renderings by Ferriss had become almost de rigeur for successful competition projects; countless skyscrapers waited their turn to be bathed in the dark monumentality emanating from his drafting table. In these works a blasé department store appears as a giant lording over its block. Stodgy hotels cease to be stodgy hotels and become looming silhouettes emerging from the urban haze like shipwrecks. Ferriss went to grand new lengths in suppressing detail for mood, and clients loved it.”

Buku ini terbagi atas beberapa bagian seperti ; Cities of Today, Projected Trends, dan An Imaginary Metropolis. Beberapa gambar yang saya tampilkan disini dicapture dari bagian-bagian bab tersebut.

Silakan lihat gambar :

Cek site yang membahas dirinya : di sini