You are currently browsing the monthly archive for January, 2008.

“An Iris After the Rain”
Acrylic
7 inches by 5 inches, 2008

Kris Kuksi tidak selalu identik dengan grotesque art, tapi dia juga mellow :).

Pemahaman tentang suatu karya, dan pengalaman menangani material yang terkait dengan junk, sampah dan besi-besian selama puluhan tahun mengakibatkan ada semacam feel yang terasa sangat profesional dan brilian. Ini yang saya lihat dari salah satu sculpture terbaru sang seniman senior Jepang : Chu Enoki. Dalam sitenya, karya-karya Enoki mengingatkan saya akan keperkasaan gerakan pop dan kontemporer yang melanda dimensi ruang seni di Asia (Jepang khususnya) dan Amerika di pertengahan 70 an dan 80 an. Tak heran, tak berlebihan publik seni menjulukinya sebagai salah satu tokoh avant-garde di Dunia Seni Rupa Jepang.

Karya berjudul RPM-1200, a futuristic, crescent-shaped skyline made with pieces of junk metal polished to a brilliant shine. Dengan dimensi yang …wow …tinggi 11 kaki dan lebar 15 kaki. Dapat dibayangkan ketelatenan seorang Enoki yang merangkai dan mem-polish kepingan satu persatu sehingga dapat terlihat seperti baru.

Terlepas dari Utopia, Dystopia atau apapun, karya Chu Enoki mungkin seperti mimpi seorang Seikh Mohammed, pemimpin Dubai untuk mewujdkan mimpi negaranya yang canggih dan futuristik dan selalu memberikan impresi yang luar biasa bagi masyarakat awam. Tetapi dalam kategori apapun, Enoki sukses memposisikan dirinya dengan karyanya yang melahirkan statement tentang utopia kota futuristik itu sendiri.

Cek karyanya di sini dan sini

Sebuah pameran sculpture yang mungkin sedikit ekstrim secara visual dan mekanisme klasik yang tertata rapih dengan tajuk ( dalam bahasa Perancis, sayangnya ) : “Les Machines de l’Ile Nantes”, di desain oleh François Delarozière dan Pierre Orefice. Bertempat di Nantes, Perancis, pameran ini sukses menjungkirbalikkan persepsi tentang mekanisme mesin dalam patung atau robot hewan, inteprestasi makhluk-makhluk unik dalam novel karangan Jules Verne dan style yang agak jauh dari wacana masyarakat seni rupa kita, Steampunk Ages.

Pameran yang juga diperuntukkan sebagai persembahan atau memperingati karya-karya Jules Verne ( karena Jules Verne, sang novelis terkenal ini memang lahir di Nantes, Perancis). Secara visual, apa yang dipamerkan kali ini menimbulkan berbagai macam persepsi. Seperti pameran karya kontemporer, seni rupa Jules Verne ataupun sekedar pameran artwork biasa. Tetapi bagi saya, setelah melongok situsnya : Dedikasi keras dan kecintaan terhadap hal-hal yang berbau mekanisme klasik pada akhirnya berhasil diwujudkan dalam karya yang brilian dan mencengangkan. Apa yang bisa kita apresiasi, sesudah kita hanya bisa terpukau oleh detail dan ukurannya yang giga size.

Salah satu karya paling mencengangkan disini adalah Gajah mekanik ( terbuat dari mesin, kayu, besi dan kawat) berukuran raksasa , tinggi 11 meter dan beban 40 ton, bisa bergerak juga. Sinting.



Claude Joannis has a few photographs that’ll give you some idea about how extraordinary cool this exhibition is
. Gambar diambil dari situs ini : darkroastedblend dan yang ini juga. Dan beberapa informasi teks dari situs pribadinya event ini.