You are currently browsing the category archive for the 'Art' category.

Li Wei states that these images are not computer montages and works with the help of props such as mirror, metal wires, scaffolding and acrobatics. (source)
Suatu performance art yang dibekukan dalam fotografi seni. Dan gilanya, ini seperti aksi stuntman. Lihat foto yang ada disini, sang artis Li Wei melakukannya dengan bantuan kawat baja yang sering dipakai untuk aksi-aksi stuntman. Sepintas mengerikan, namun yang ada adalah karya seni fotografi yang menakjubkan. Li Wei mencoba mengutarakan gagasan tentang “jatuh”. Serta bagaimana aktivasi emosi yang timbul ketika mampu menundukan konsep gravitasi. Seni tidak lagi berbicara sekedar relasi visual inspirated dalam kekaryaan sang seniman . Namun juga melibatkan emosi, fisik dan …nyali, untuk menghasilkannya.
Simak karya terakhirnya yang berjudul ” Fall (series)”. Angkat 4 jempol buat karyanya. Sekali lagi Li, memang mencoba menunjukkan seberapa besar nyalinya.




Seniman fotografi yang juga seorang musisi dan aktor. Richard Edson. Beliau saya ketahui adalah founding member dari sebuah band Noise Rock cukup terkenal akan idealisme dan konsistensinya, Sonic Youth. Namun kali ini saya tidak akan membahas musikalitas dan filmography-nya yang udah karatan, tetapi saya tertarik dengan eksplorasi lensa makro dari kamera yang digunakannya untuk menghasilkan karya-karya yang menarik dan unik. Dengan menggunakan objek mainan mini dan ketelatenan tinggi, dirinya menghasilkan karya-karya seni fotografi yang bisa dibilang detail dan fokus.


Richard Edson’s pictures are close-ups of toys, shot with incredible attention to lighting, background, color, context, and focal points (boingboing.net)
Dalam pameran yang diselenggarakan sekitar 2 minggu lalu (14 Maret 2008), karya-karyanya memamerkan foto-foto yang kontekstual. Ketelatenan cahaya, background dan pemfokusan dengan upaya berkali-kali dalam satu objek dalam satu frame tema gambar dan saya pikir, dia sangat fokus. Tak mudah menghasilkan karya seperti ini, kecuali sabar dalam setiap memotret objek mini yang diinginkan sesuai dengan tema yang diusung. Terutama sekali pencahayaan.

Here’s Edson discussing the exhibit:
“When I looked at these simple figures through the macro lens I was impressed by the seeming depth and humanity. It didn’t seem possible, but the more I looked the greater the illusion became. They seem like repositories of secret emotion and feelings. But then the more I thought about it the more sense it made. They were imagined and created and worked on by human beings and something remarkable and human was transferred.” (Blog LA Weekly)

Kalau saya pikir saya bisa berkarya seperti dia (dengan teknik sama) dan dengan objek yang ada, apakah saya bisa konsisten dengan teknis seperti ini ?
Check out this link :
mark weston, LA weekly
Ini merupakan karya kolaborasi dua seniman Rusia ; Leonid Tishkov & Boris Bendikov. Karya dengan hasil akhir yang mungkin lebih dekat kepada conceptual modern Photography, memang memberikan nuansa klik yang berbeda. Foto-foto tersebut memberikan gambaran bagaimana interaksi (rekaan) karya mereka berdua yang lebih mirip karya seni rupa kontemporer dalam kehidupan sehari-hari ( yang imajiner). Hasilnya malah menjadi sebuah seri karya fotografi yang cukup menarik.
Ada beberapa seri karya mereka selain Private Moon. Yakni : Visit of the Star (series), The Generals of the Sand Pits (series), Pure East (series). Namun salah satu yang sangat menawan adalah Private Moon Series. Nuansa yang muncul adalah indah dan ‘dalam’.
Lihat gambar dibawah ini :






Saya pada awalnya merasa seperti sedang membaca atau melihat koleksi cover majalah National Geographic. Inilah karya-karya utama dari Kimiko Yoshida, nama sang seniman yang berkebangsaan Jepang yang saat ini menetap di Perancis . Dengan tema yang cukup menarik saya bilang, Wedding Veils.
Karya Kimiko Yoshida, dengan memajang foto dirinya dengan menggunakan kostum, dandanan, make-up pengantin dari berbagai ethnic dan zaman, mencuatkan satu pemahaman penting tentang eksplorasi tubuh saat ini. Banyak rujukan yang mengarah pada suatu hal yang disebut : Anthropological self-fashioning. Lihat bagaimana dia mendandani dirinya dengan kerudung pengantin wanita dari Kenya sampai Afghan. Bagaimana dia mengeksplorasi dan mengimajinasi diri setelah membaca buku-buku sejarah antropologi, jaman pertengahan busana atau make-up pengantin di Papua New Guinea sampai ke Tibet. Saya sendiri terkaget-kaget dengan keberaniannya memvisualkan make-up pengantin dari jaman Mesir Kuno, Nigeria dan khas pengantin wanita suku Berber di Afrika.
Saya pikir kesimpulan pesan dari karyanya cenderung luas, penuh pemahaman mendalam bagaimana lintas bangsa dan identitas ditunjukkan dalam visual karyanya yang saya pikir cukup dahsyat. Mungkin bisa dibilang cenderung menjungkirbalikkan fakta tentang karya seni kontemporer dimana seorang seniman dalam ide berkarya kerap melintas batas melawan sejarah “ke-aku-an” individu berbagai bangsa di dunia. Yang pasti, para pemikir semiotik dan antropolog dimanjakan dengan eksplorasi karya Kimiko ini.
Dan alangkah menarik mendatangkan seniman seperti ini untuk berpameran di Indonesia. All image by Kimiko Yoshida : kimiko.fr

| The Blue Kenya Bride with Luo and Turkana Ornaments. Self-portrait, 2005 |
| C-print mounted on aluminium and acryl 120 x 120 cm Courtesy of the Israel Museum, Jerusalem |

| The Blue Yoruba Bride, Nigeria. Self-portrait, 2005 |
| C-print mounted on aluminium and acryl 120 x 120 cm Courtesy of the Israel Museum, Jerusalem |

| The Baba Bride Behind Her Initiation Mask, Abelam, East Sepik, Papua-New-Guinea. Self-portrait , 2005 |
| C-print mounted on aluminium and acryl 120 x 120 cm Courtesy of the Israel Museum, Jerusalem |

| The Amaterasu Bride. Self-portrait, 2005 |
| C-print mounted on aluminium and acryl 120 x 120 cm Courtesy of the Israel Museum, Jerusalem |

| The Phoenix Bride, China, XIX th Century. Self-portrait, 2005 |
| C-print mounted on aluminium and acryl 120 x 120 cm Courtesy of the Israel Museum, Jerusalem |

“An Iris After the Rain”
Acrylic
7 inches by 5 inches, 2008
Kris Kuksi tidak selalu identik dengan grotesque art, tapi dia juga mellow :).
Pemahaman tentang suatu karya, dan pengalaman menangani material yang terkait dengan junk, sampah dan besi-besian selama puluhan tahun mengakibatkan ada semacam feel yang terasa sangat profesional dan brilian. Ini yang saya lihat dari salah satu sculpture terbaru sang seniman senior Jepang : Chu Enoki. Dalam sitenya, karya-karya Enoki mengingatkan saya akan keperkasaan gerakan pop dan kontemporer yang melanda dimensi ruang seni di Asia (Jepang khususnya) dan Amerika di pertengahan 70 an dan 80 an. Tak heran, tak berlebihan publik seni menjulukinya sebagai salah satu tokoh avant-garde di Dunia Seni Rupa Jepang.

Karya berjudul RPM-1200, a futuristic, crescent-shaped skyline made with pieces of junk metal polished to a brilliant shine. Dengan dimensi yang …wow …tinggi 11 kaki dan lebar 15 kaki. Dapat dibayangkan ketelatenan seorang Enoki yang merangkai dan mem-polish kepingan satu persatu sehingga dapat terlihat seperti baru.

Terlepas dari Utopia, Dystopia atau apapun, karya Chu Enoki mungkin seperti mimpi seorang Seikh Mohammed, pemimpin Dubai untuk mewujdkan mimpi negaranya yang canggih dan futuristik dan selalu memberikan impresi yang luar biasa bagi masyarakat awam. Tetapi dalam kategori apapun, Enoki sukses memposisikan dirinya dengan karyanya yang melahirkan statement tentang utopia kota futuristik itu sendiri.


Ini adalah sebuah wawancara mindstreet dengan Nani, seorang scenester art, Desainer Grafis, Artistik Enthusiast, apapun namanya, yang sudah lumayan lama saya kenal dari dunia maya. Dia juga seniwati , seniman/desainer dari Surabaya yang sedikit cukup aktif dan lumayan sering berpameran kelompok. Baru-baru ini dia telah melakukan solo exhibition yang (katanya sih sukses :)) cukup sukses. Check saja di sitenya disini : designani. Pada akhirnya, saya berhasil mengumpulkan waktu yang terserak disela-sela aktifitas padat saya untuk mewawancarai dirinya via email (!) seputar karya dan pandangannya tentang aktivitas berkesenian sekarang. Berikut hasil wawancara yang telah saya kumpulkan :
1. Bisa diceritain gak, sekilas biografi, background pendidikan kamu ?? dan kenapa kamu terjebak di dunia artistik seperti ini
Baru graduate September 2007 sebagai Bachelor of Visual Communication Design di UKPetra Surabaya. Hhhmm…mulai terjebak,terjebak, Saya benar2 sudah terjebak dari dulu ,tapi belum menyadari bahwa itu berkaitan dengan namanya seni, waktu kecil saya suka coret2 dimanapun, daripada ditangkap, saudara mengusulkan untuk sekolah dijurusan DKV yang waktu itu masih tergolong baru di sby. Dan untuk dunia artistik, itu berdasarkan pikiran saya yang sudah absurd, waktu kecil saya suka berkhayal, mengarang, senang melihat bentukan2 aneh…’feel’nya keluar begitu saja.
2. Gue tertarik sama karya kamu , graphic novel (buku seni) yang judulnya, Murus. Ada hal yang spesial tentang itu ? baik pemilihan tema atau konsep visual ? and what technique ?ada keinginan buat dipublikasikan seperti dicetak atau bahkan diperbesar dan dibagi dalam beberapa caption, ceritakan saja
Murus dalam bahasa latin berarti dinding,asal kata Mural. Murus sendiri terdiri dari dua bagian dimana pertama bercerita anak bernama Tole yang trauma terhadap dinding karena disembunyikan oleh ibunya ketika bekerja sebagai wanita penghibur dan cerita tentang mereka yang diwakili oleh Boi pemuda dengan kehidupan keluarga yang berantakan. Kedua cerita ini berkaitan,mengangkat fenomena2 sosial seperti perselingkuhan, vandalisme, pelacuran, pengorbanan, kerja sama. Bahasa verbalnya mengunakan ungkapan-ungkapan yang bersifat personifikasi, metafora maupun narasi serta beberapa puisi untuk melengkapi visualnya. Sedangkan tekniknya adalah sketsa,cat air dan penggolahan digital. Ditambah dengan pewarnaan kusam dan kotor.Sedang mencari penerbit, mungkin ada masukan bagus? tentunya saya berharap buku ini menjadi wacana yang berbeda diantara trend novel-novel remaja yang sedang bergejolak.

3. To the point aja, bagaimana pendapat kamu secara saat ini batasan art dan desain lebur dalam periode sekarang, sehingga di masyarakat maju (modern) penerimaan tentang hal ini sudah lumayan apresiatif. Sedangkan dalam konteks akademis, wacana ini sudah dianggap lumrah, dan bahkan menjadi salah satu mata kuliah tersendiri.
Saya tidak akan berbicara banyak mengenai hal ini. Mengenai batasan-batasan seni dan desain, siapa yang tahu. Saya pikir semakin ada batasan, semakin kita terkungkung. Namun yang terjadi di Indonesia adalah mengenai kurangnya tanggapan khalayak terhadap art itu sendiri. Para seniman bahkan memilih berkarya dinegeri orang untuk mendapat lebih pengakuan.
4. Gue liat gejala dan gerak yang hampir seragam antara scene bandung, yogya dan surabaya ( kota-kota besar yang memiliki akses informasi global dan pendidikan seni yang terstruktur), kalo seni dalam aplikasi apapun ( street art, grafiti, drawing, ilustrasi distro, sneaker art, stencil art dll dll dll) menjadi banal (alias biasa) karena penerimaan masyarakat yang cenderung terbuka. Bagaimana pendapat loe ? apakah ini emang suatu trend karena pengaruh media dan informasi ? atau memang keharusan sebagai generasi ( yang bercita rasa artistik) sekarang ?
Semua berperan baik. Saat ini fenomena yang terjadi banyak anak2 muda Indonesia yang menjadikan kegiatan2 tersebut bagian dari lifestyle. Mereka mengikuti arus trend dari luarnegeri. Referensi dan internet sangat mempermudah untuk melihat perkembangan artistik di sana. Dibuktikan mulai muncul banyak pameran, kegiatan, komunitas2 bahkan kompetisi yang benar2 menyemarakan.
5. Apakah saat ini di kamu selalu merasakan ‘beban’ konseptual kalau berkarya ? dengan kata lain, motorik aja bikin karya trus baru mikir ? atau so be it , serahkanlah pada kurator yang berbicara nantinya ?
Kata ‘konseptual’ lebih saya tekankan pada profesi saya sebagai designer graphic, dimana saya bekerja dengan client dan menekankan komunikasi. Disana terkadang muncul kejenuhan dengan semua yang berkonsep dan akhirnya mengeluarkan idealisme saya dalam seni. Namun karya tanpa makna dan pesan adalah kosong. Walaupun keabsurdan saya tidak dimengerti oleh orang awam, tetapi ketika mereka bertanya,saya akan senang hati untuk menjawab apa makna dibalik karya saya. Dan kurator yang berbicara tentu juga mendengar dari sudut pandang saya.
6. Mural pada solo exhibition kamu, bagus juga. Ramai namun seragam, intinya sih rapih. Sepertinya kamu bisa lebih ‘buas’ kalo berkarya di area/medium yang lebih luas. Bisa jelaskan kenapa tertarik dengan medium yang dimensinya kecil dan teknik yang konvensional (cat air, atau teknik lain yang umum dalam ilustrasi). Dengan lokasi di sebuah distro, kemungkinan menjual itu ada. Dengan kata lain, dalam kemasan artistik macam apapun, kamu bisa ‘jualan’ sebenarnya
Beragam media dan tekniknya saya tidak akan membatasi. Bisa dicoba semua. Cat air, acrylic, crayon, kolase, apapun itu. Intinya saya memilih fleksibel terhadap semuanya.

7. Ada keinginan buat terus berkarya gak ? berpameran dengan seniman-seniman Pop Surealis yang jadi mega-star di majalah Juxtapoz, pameran di La Luz de Jesus Gallery? Saya yakin ada jalan buat menuju sana. ( semoga ga mimpi ya menembus pasar seni di Amerika :))
Teruuuuus….kecuali saya tidur. Heehehuhe..Masih banyak yang harus dikerjakan untuk mencapai semuanya. Semoga karya saya bisa terpajang di gallery-gallery luar negeri sana.Bolehlah sekalian memajang impian.

8. Ini pertanyaan terakhir sebelum selesai, Karya kamu itu ‘girly’ banget. Emosi dan aspek ketertarikan digambarkan disitu, saya harap kamu tidak stress dan ‘kelam’ terus berkarya brilian sebelum mati di usia muda
. Apa kamu ga tertarik dengan eksplorasi medium yang lebih lanjut seperti sculpture, big mural, instalasi dan lainnya ??
Selagi usia muda banyak kesempatan. Seperti saya bilang tadi, apapun mediumnya saya selalu tertarik untuk mencicipinya.

9. Kamu punya pesan gak buat seniman-seniman tenar di sono :D??
Terus berkarya dan selalu memberikan saya inspirasi, kalau ada waktu mari kita ke dufan bareng…hehehe
Sekian tulisan ini dan kita nantikan saja, keuletan dan keseriusan dirinya akan menghasilkan sesuatu yang terlahir dalam bentuk karya yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan dengan utuh.
Silahkan kunjungi blognya di sini : http://designani.blogspot.com/, gambar diambil dari situsnya.

Through Death United
91″ h 35″ w 13″ d
mixed media assemblage
2007
Masih mengandalkan teknik dan media yang sama. Namun kali ini sepertinya lebih besar dari yang saya perkirakan. Di posting sebelumnya, dan dengan karya ini, masih merupakan seri yang sama. Sekali lagi otentisitas dan konsentrasinya masih berbuah hasil yang luar biasa. Tunggu saja karya-karya terbaru dari Kris Kuksi.
visit : kuksi.com
Biodata tentang dirinya, saya cuplik dari website dirinya :
About: MUNK ONE a.k.a. Jose A. Mercado is a contemporary American Illustrator and Fine artist. He is most noted for creating Artwork for bands such as Korn, Avenged Sevenfold, My Chemical Romance, The Generators and many more who’s merchandise can be seen through out the world. He is also known for his Fine Art which has been gaining more and more attention with no signs of slowing.
Lihat websitenya dan karya-karya ilustrasinya adalah parade simbol kecintaan sang seniman terhadap apa yang menjadi hobinya.
Bagi saya karya Jose a.k.a MUNK ONE ini, bukti nyata dari otentisitas pegaulan, keterpengaruhan dan sekali lagi, dirinya memang anak jaman. Kultur yang dekat dengan apapun yang bersifat eklektik, simbol eksotisme tengkorak manusia yang dimodifikasi - lekat dengan simbolisasi rock, sekilas seperti Trash (metal) artwork - old skool, beberapa eksotisme dunia politik dan religius di India, figur pemberontak Zapatta di Meksiko, visual zombie film-film Romero, ilustrasi untuk skateboard dan lain sebagainya. Keterpengaruhan menunjukkan karyanya. Ada semacam pemeo yang lazim, bahwa saat ini memang seharusnya influence berkarya lebih bersifat literatur dan memilih konten yang baik, dengan mengamati karya seniman lainnya, penerimaan pengaruh atas hobi atau interest, sehingga apapun keterpengaruhan yang terlukis dalam karya-karyanya itu menunjukkan identitas awalnya sehingga biasanya berkembang menuju style yang otentik - walau saya tidak memungkiri banyak seniman-seniman Los Angeles, korporasi a la Juztapoz yang identik dengan gaya MUNK ONE ini.
Saya mencoba melihat keterhubungan dirinya, karyanya dengan periode seni jalanan, graffiti, skate art, band-band rock yang menggunakan jasanya untuk ilustrasi cover rekamannya dan poster pertunjukan. Saya melihat karyanya memang figuratif dan dekat dengan kemasan saat ini. Simbolis dan asiknya, bisa dipakai dimana saja, baik untuk fine art, cover rekaman bahkan sampai ke stiker :D.
Karyanya bagi saya cukup menghibur. Saya pikir dia memang mewakili jamannya, saat ini. Saat berkorespondensi dengannya via email sekalipun, masih menggunakan nama alias hehehe.




Simak karyanya di websitenya di sini. Karya yang ditampilkan disini atas seijin MUNK ONE sendiri, silahkan kontak untuk mengetahui lebih lanjut.

“The Plague Parade: Opus 1″/ mixed media assemblage
38″ h x 13″ w x 29″ d/ 2007
Salah satu karya terbaru dari Kris yang saya terima dari email. Rasanya dia masih konsisten untuk menggarap tema-tema grotesque. Karya terbarunya ini masih dipamerkan di Miami, sampai saat ini, dan belum dipublikasikan di websitenya. Di posting sebelumnya, Kris Kuksi membangun nuansa horror dan klasik yang terpola secara simetris tersimak seperti karya-karyanya yang masih konsisten menggunakan mixed media. Untuk saat ini. sepertinya merupakan pola lanjutan dari karya sebelumnya, dia (masih) terpesona oleh bentuk-bentuk konstruktif, peradaban dan fantasi horror - visual yang sedikit menakutkan. Belum lagi seri karya-karyanya yang menggunakan elemen tulang-belulang, tengkorak manusia.
Saya seperti melihat replika Gulliver dan manusia liliput dalam berbagai seri:D.
Featured at the ‘FAME’ collective event in Miami this week alongside Art Basel. Please contact Josh Liner at josh@lineagegallery.com for more information.
visit his website at www.kuksi.com
Sebagai seorang seniman senior yang sudah kenyang akan persepsi visual dan pengalaman, rasanya tidak heran ketika berkarya dengan media campuran dan mengambil brand sebagai tema kekaryaanya, dengan muatan populer. Tergantung, siapa yang di’serang’ olehnya. Dalam karya (keren) yang ini, dirinya terang-terangan menyerang dominasi konsumerisme dan menggunakan elemen yang bertolak belakang dalam menyerang fashion dan culture street.

Chanel Chainsaw (199
/ Mix media
Lihat karyanya yang menggunakan material campuran dari branding aseli produk seperti Chanel, Prada dan lainnya seperti McDonald. Karya yang secara telak menerjang sifat konsumtif, penyembahan uang, comercial imagery dan gaya hidup berkelas, menjadi sebuah pendedahan wacana yang menarik. Sekilas wacana yang saya ungkap sepertinya sedikit bias, seandainya saya bisa berbicara langsung dengan Tom Sachs. Dalam hal ini, Tom Sachs seperti semua orang yang menempuh politik sayap kanan atau kiri, namun bedanya dia menumpahkan idenya dengan berkarya. Karya seni memang selalu bergerak unggul menemukan tema yang sangat kondisional, karena dia adalah ujud cerminan dinamika masyarakat saat ini. Dan visual karyanya, sangat sadis, menimbulkan esensi yang menyeramkan. Hey, siapa yang menyangka membuat gergaji mesin dan mesin guillotine dari foamcore dan kulit imitasi?
Tapi sejujurnya, sepertinya Kapitalisme, selalu menjadi musuh yang baik bagi semua orang :), terutama orang-orang yang kritis.

Left : Prada Toilet , Right : Chanel Guillotine (Breakfast Nook)
Check sitenya di sini.
Seorang Bruno 9Li , adalah seniman dengan extraordinary talent, serius. Lihat karyanya, dan kita akan membicarakan sekilas karya dari seniman yang saat ini berdomisili di Sao Paulo, Brazil.
Saya seperti melihat kombinasi ilustrasi figur jepang kuno, khas seni rupa latin, vinyet (ilustrasi artikel di koran tahun 70 an yang simetris) , bentuk dan citarasa Art Nouveau dengan paduan geometris vector yang banyak dibuat dalam perangkat lunak seperti Corel, Adobe dan lainnya. Namun jujur saja, saya malah terkagum-kagum dengan karyanya, yang terus terang, bagi saya, dia sangat detil dan rapih. Sangat ilustratif, penuh dengan simbol-simbol yang biasa dipakai dalam karya ilustrasi, tapi juga ketika menuangkannya ke bidang yang lebih besar seperti kanvas ataupun panel.
Seperti lazimnya seniman visual sekarang, pengaruh dan sumbangsih media menentukan figur, sosok bahkan pilihan warna yang dihadapkan, karya Bruno saya nyatakan : keren abis. Bukan sekedar visual, tapi ketelatenan karya yang dihasilkan oleh Bruno 9Li ini memang mengagumkan bagi siapapun (penikmat seni). Di usia yang terhitung muda, 27 tahun, dia sudah berani berkreasi dan dilirik pasar Amerika.
Saya sendiri jadi asik sendiri melihat karyanya yang nyatanya sangat inspiratif.
Lihat karyanya :

Aurora

Renova Eterno

See From here

Flood
Lihat juga foto-foto pameran perdana karyanya di Amerika 5 bulan yang lalu di sini dan sini. Gambar diambil dari situs ini.
Sebuah buku ilustrasi arsitektural masa depan yang dikarang oleh Hugh Ferriss (1889-1962) , pada tahun 1929, dengan judul The Metropolis of Tomorrow, menunjukkan sebuah imajinasi akan bentuk kota, tata ruang impian untuk yang akan datang. Mungkin ada baiknya daripada saya berpanjang-panjang, saya bilang saja ini Konsep retro-future, dan malah sedikit terlihat seperti yang terangkum dalam film-film Batman sekarang - dengan berbagai modifikasi tentunya. Gotham City. Saya pikir sih tadinya, ini merupakan impian dirinya akan wajah masa depan Amerika nantinya.
Awalnya saya tidak menyangka, namun ketertarikan saya dengan konsep retro-future yang sangat naif, malah memberikan pemahaman bahwa : idealnya imajinasi akan lanskap dan teknologi canggih memang mewarnai pemikiran para futuris-ilustrator di masa lampau. Seperti idealnya bentuk-kotak besi yang tak bersudut tajam, bulat dan antena-antena transmisi gelombang dimana-mana. Namun ada yang menarik, dari ilustrasi arsitektural karya Hugh Ferriss ini , bentuk hitam putih dan konsep gigantik, banyaknya gedung tinggi menjulang yang menjelma jadi statue kota, dingin dan kaku dengan bentuk masif memang memanjakan imajinasi para futuris masa lampau yang cenderung mengesampingkan sisi ideal tentang lingkungan.
Setelah melihat karya Ferriss - yang nota bene merupakan salah satu arsitektur berpengaruh di Amerika, saya kagum akan imajinasi mereka saat itu. Kemudian saya melihat saat ini, dimana (katakanlah) negara seperti Jepang dengan konsep robot dan personal hi-tech, transportasi canggih dalam bentuk prototype yang sudah diluncurkan, berbanding kontras dengan kondisi lingkungan yang awut-awutan akibat pembangunan kota (seperti yang Ferriss bayangkan) kehancuran alam, pemusnahan hutan dan perilaku beringas manusia di mana-mana membuat saya jadi malas membayangkan masa depan. Iya kalo makin maju, kalo makin suram ?
Simak review dari situs ini :
As Michael Mallow puts it: “By the mid-twenties, renderings by Ferriss had become almost de rigeur for successful competition projects; countless skyscrapers waited their turn to be bathed in the dark monumentality emanating from his drafting table. In these works a blasé department store appears as a giant lording over its block. Stodgy hotels cease to be stodgy hotels and become looming silhouettes emerging from the urban haze like shipwrecks. Ferriss went to grand new lengths in suppressing detail for mood, and clients loved it.”
Buku ini terbagi atas beberapa bagian seperti ; Cities of Today, Projected Trends, dan An Imaginary Metropolis. Beberapa gambar yang saya tampilkan disini dicapture dari bagian-bagian bab tersebut.
Silakan lihat gambar :






Cek site yang membahas dirinya : di sini

Terkadang bagi beberapa orang (ilustrator, seniman, designer dll) sketsa terasa sangat penting untuk didokumentasikan. Bagaimana jadinya, nantinya atau hasil akhirnya, yang terpenting adalah memperlihatkan sebuah rekaman perjalanan. Dalam hal ini, sketsa dalam pensil, charcoal, konte atau apapun sebenarnya adalah bagian penting dalam proses penggarapan karya tersebut.
Leesa Leva, memperlihatkan pada kita salah satu keunggulan yang sangat mendasar. Bagaimana dirinya mampu menguasai elemen teknis manual yang sebenarnya sederhana. Bermain dengan medium kertas, pensil, cat air, pensil warna, cat minyak, akrilik dan kanvas, justru memperlihatkan jika dia sebenarnya memang pemain lama yang sudah sangat faham karakter masing-masing medium dan hasilnya. Saya tertarik dengan kesan retro, klasik dan 70’s illustrated yang dimunculkannya, selain gestur objek dan pewarnaan, terkesan penggunaan kertas berwarna krem atau coklat malah menambah daya tarik karyanya. Dan kesan sebagai ilustrasi fashion malah sangat menonjol disini. Sangat ‘cewek’ sekali rasanya, feminin tapi juga nuansa kekinian.

Silahkan nikmati karyanya. Pesan saya; jangan takut untuk menonjolkan pensil dan sketsa sebagai salah satu karya, toh sebagai rekaman dari perjalanan sebuah karya, hal tersebut amatlah sangat penting.


Pemuatan karya ini atas seijin sang seniman. Cek portfolio dan blognya. All images was taken from her site.

El Chupasavia . Character design for a pro-recycling website.
Sederhana. Namun kuat dalam pewarnaan dan karakter objek. Bagi saya karya seorang Ana Galvan (31/F - Murcia/Spain), sangat mencerminkan ‘kewanitaan-nya’. Keseluruhan karyanya menggunakan teknik ilustrasi manual dan digital editing ( ilustrator, freehand dan photoshop). Tapi (saya juga bingung) situsnya menggunakan bahasa Spanyol, terang saja saya tidak mengerti. Tetapi tetap mencerna bahasa gambar, jika teks susah diartikan, saya artikan saja dalam bentuk visual.
Kebanyakan sih karyanya berbentuk ilustrasi, format comic-strip dan kebanyakan bermain di tekstur background dan subdued colours. Tetapi saya pikir penterjemahan visual (dalam opini saya) lebih ke dalam bentuk visual yang ‘cewek banget’ dan rata-rata topik ’seni’ yang sedikit pesimistik. Saya hanya mengingat sedikit banyak kemiripan dengan karya-karya seniman yang berafiliasi dengan Juztapoz Magazine dan saya hanya mencoba merepresentasikan bentuk yang sangat menarik dari karya-karya ilustrasi Ana Galvan kedalam pemahaman.
Rupanya tema yang diangkat dan ujud karya yang pop-surealism sudah mengglobal juga :D:D.
Lihat karyanya :

Mechanics

Illustrations for Ilustraciones fanzine . Inspired by Slochss, a Hidrogenesse’s song
Cek situs karyanya dan blogsitenya : Ana Galvan dan Elmyra Duff
Melukis model orang ber-tattoo, dalam cat minyak. Detil pula + pencahayaan dan pewarnaan yang realis. Wuih!, tak terbayangkan. Tetapi hasilnya jauh lebih mencengangkan. Saya pikir Shawn Barber ini terlalu ber-skill. Aseli ..ber-skill.
Sebagai praktisi seni yang bergerak di banyak bidang yang terkait ( mengajar, web designer, melukis dan studi tentang tattoo), setelah berkarya selama hampir 10 tahun, menghasilkan sekitar 750 buah lukisan baik komersial maupun kepentingan pribadi, ratusan sketsa dan banyak karya mix media lainnya , dia telah bercerita tentang banyak hal. Kecintaan dan proses pembentukan kemampuan melukisnya banyak disadari ketika dia menyelesaikan sekolah seni pada tahun 1995. Disitu dia memiliki keinginan yang kuat tentang berbagai bidang dalam seni.

The tattooed paintings that I’m working on are a mix of my love for the tattoo medium, my interest in the figure, the abstraction of paint, color and line- and the desire to create interesting imagery based of the imagery of tattoo artists whose work that I think is interesting…
———————— diambil dari situs pribadinya.
Shawn Barber, dalam wawancaranya di situs pribadinya, mengatakan elaborasi dirinya adalah yang terpenting dalam karyanya sebagai kecintaan terhadap apa yang diyakininya . Dan yang terpenting dalam hal ini adalah : Proses. Selain keyakinannya tentang orisinalitas dan otentisitas, serta menentang bentuk pencurian visual atau ide berdalih influence.

Melihat karyanya, CV nya dan ‘petuah’ nya tentang keteguhan hati memilih seni sebagai jalan hidupnya, kadang membuat saya malu-malu. Dalam hati saya berdalih infrastruktur negara ini yang belum memberikan penghargaan terhadap seni. Sementara dia berani untuk terus maju dan yakin kecintaannya akan seni dapat menghidupinya. Terbukti, malah membesarkan namanya.



Cek disitus pribadi Shawn Barber.
Akhirnya saya menemukan satu dari beberapa seniman drawing dan ilustrasi yang saat ini menjadi favorit saya.
Karya Yuka Yamaguchi, ini saya temukan ketika membrowse dan mencari data base seniman jepang yang tinggal dan berkarya di Amerika. Setelah melalui proses korespondensi via email, akhirnya saya bisa menuliskan sesuatu tentang karya-karya uniknya ini.
Beberapa poin penting yang saya dapatkan dari galeri karya di websitenya ini, adalah ketertarikan dia soal simbolisasi dari innocence and birth. Tak heran, ibu satu anak kelahiran Kobe yang sekarang tinggal di Saskatoon, Kanada, ini, memang mencitrakan seorang seniman yang kaya akan pemahaman tentang multi kultur, dan jeli mengolah visual yang cerdas dalam karya ilustrasinya.
Senada dengan review di majalah online (entah masih dicetak atau tidak), Juxtapoz , kekuatan yang muncul adalah bagaimana dia mengolah simbol organ tubuh, mimpi, perilaku aneh dan khayalan sang anak-anak(dalam hal ini dia sering menggunakan tokoh ilustrasi anak-anak jepang) dengan dunia imajinasi. Itu secara tematik. Secara teknis memang tidak ada yang baru : cat air, pensil warna, tinta cina, gouache, konte maupun pena .
Namun yang menjadikan dia menarik memang bagaimana dia mengolah ide dan mentransformasikan ke dalam kertas. Lihat bagaimana absurd dan ganjil, perilaku tokoh-tokoh anak-anak yang ada di dalam karyanya. Bagaimana dia memperhalus teknik gambarnya, menghasilkan karya yang clean dan rapih. Sekilas memang tak beda dengan ilustrasi untuk artikel-artikel di majalah dan koran ternama, namun lain cerita ketika karyanya di bungkus dalam frame artwork dan dipamerkan di gallery.
Lain cerita pula jika bisa melihat langsung dibandingkan melihat di monitor komputer anda :D.
Lihat karyanya :

self-portrait, age 17/2006

tough skin, juicy heart/2006

there you are!/2006

my proxy/2006

my first time/2007

meichuu/2007

kubittake/2007
Cek website pribadinya. Copyright: yuka yamaguchi.
Ini salah satu seri dari karya foto (realis) surealis dari Julia Fullerton-Batten. Yang menarik perhatian adalah tentang perbedaan skala yang cukup ekstrim, dan menyelimuti cerita yang muncul dari gambar-gambar ini menjadi sangat unik. Sejujurnya,awalnya saya memang belum terlalu melihat perbedaan mendasar, dengan tema yang hendak diusung, atau seperti fashion fotografi ?, tetapi setelah membaca dan mencoba memahami, ternyata pada dasarnya karya ini bercerita cukup dalam tentang entitas objek yang dalam hal ini adalah manusia. Simak website pribadinya, di bagian portfolionya, ada kecenderungan seragam visual karya yang dingin, pewarnaan yang merata. Tipikal urban modern dari sudut pandang komunikasi sosial saat ini dalam masyarakat barat.
Tadinya saya pikir karya fine-art photography ini melalui proses edit digital. Ternyata tidak, dia memang menggunakan replika diorama miniatur tentang kota-kota besar di dunia seperti yang terdapat di Madurodam, Belanda. Secara teknis, tema yang diajukan menarik juga, penggunaan objek riil dalam background yang kecil. Seperti sesuatu yang bertolak belakang, walaupun itu memang bagian dari ‘isinya’.
Simak ulasan dari web urbanist tentang karya dari Julia Fullerton-Batten ini :
In her Teen Stories image series, Julia has taken typical scenes and individuals and juxtaposed them at strange and incredible scales. This technique, in conjunction with using ordinary people (as opposed to professional models) has enabled her to produce an intentional awkwardness in the posture of the models that enhances visual tension within her photographs. Such work gives a strange new meaning to the terms “street art” and “urban art.”
Serie ini, memang cukup bagus, pewarnaan ( berikut pencahayaan) yang dalam, mengasilkan impact yang cukup kuat. Jujur saja, temanya urban, tapi visualnya sedikit nendang memang. Lihat karyanya :

Broken Eggs/2005/C-Type Prints/Teenage Stories

Beach House/2005/C-Type Prints/Teenage Stories

Milk Bottle/2005/C-Type Prints/Teenage Stories

Bike Accident/2005/C-Type Prints/Teenage Stories

Birdcage/2005/C-Type Prints/Teenage Stories

Girl With Baby/2005/C-Type Prints/Teenage Stories

Blindfold/2005/C-Type Prints/Teenage Stories

Floating in Harbour/2005/C-Type Prints/Teenage Stories
kunjungi situs pribadi dan portfolionya di sini ( foto dan tulisan dimuat atas ijin dari sang seniman).
Judul di awal bahasa Perancis itu artinya The Fall. Terus terang, saya mengalami kesulitan karena referensi tentang Denis Darzacq, yang tadinya saya dapat, adalah situs dirinya dalam bahasa Perancis. Jadi, kalau mau mengartikan konsep yang ditulis langsung oleh dirinya, terus terang saya cuma bisa jawab: wallahualam. Namun, secara yang sudah-sudah, bahasa fotografi adalah bahasa visual (seni) yang melintasi batasan kendala berbahasa, asas berpikir hingga bangsa. Jadi kesimpulannya, ya simak karyanya saja.
Melakukan pengambilan gambar dengan menggunakan para street dancer ( bukan penari latar lagu2 dangdut loh) , melompat, menjejakkan kaki ke dinding dengan pose yang selalu melawan gravitasi atau melayang hanya beberapa inchi di atas tanah dengan pose yang rawan (jika jatuh ya kepala bocor atau patah kaki, terlebih muka benjut), siapa sih yang tidak terkesima?. Dari situs world press photo, ada cuplikan tentang Paris Street Dancer - karya Denis Darzacq, yang bisa disimak disini :
Paris street dancers display their skills at breakdancing, capoeira and other personalized dance forms. Breakdance evolved as part of the hip hop movement among African American youths in New York City in the 1970s, and is arguably the best known of hip hop dance styles. Capoeira is derived from a Brazilian martial art. Although dances may involve a known range of positions or steps, they are unstructured, highly improvisational expressions of individual technique.
Gaya ekstrim , yang dimunculkan oleh para profesional ini, ditangkap dengan jeli oleh Denis. Awalnya saya menyangka mereka melakukan trik dengan menggantung dirinya dengan kabel atau kawat beton yang kemudian biasanya diedit ulang (digital) dengan melakukan pengambilan gambar dengan dua objek secara bersamaan. Ternyata tidak, mereka langsung beraksi. Pada dasarnya, Denis mencoba menangkap keindahan dari sebuah momen yang dibekukan. Sebuah momen yang sangat urban, sebuah pemahaman tentang gerak yang kerap bertolak belakang dalam relasi individu masyarakat (Perancis) yang beraktivitas secara rutin. Dengan mengambil background sudut-sudut kota, Denis telah menaklukan monotonisme - ‘dingin-nya” kota dengan melakukan naluri estetika para street dancer ini. Visual yang liar, mendebarkan, penuh improvisasi dan spontanitas teknik (olah tubuh) yang mengagumkan dalam melawan beban gravitasi.
Saya seperti tertawa geli, ketika World Press Photo menganugerahkan penghargaan kepada Denis, dan meminta klarifikasi nama Dance Company yang menjadi modelnya. Yang empunya karya malah tidak bisa menjelaskan, karena ini adalah kerja kolektif antara seniman dan sekelompok street dancer di Paris. Dan lagi, dirinya memang ingin mengkondisikan situasi yang berbeda, simak katanya :
“I hate this visual idea of Paris as a baguette or Catherine Deneuve carrying a bunch of flowers,That’s why we lost the Olympics. I’d like us to be able to speak of modernity without blushing.”
Itulah modernitas yang hendak disampaikan Denis, dengan jeli dan berhati-hati (untuk tidak membicarakan kerusuhan rasial di Perancis tahun 2005 waktu itu), dia merekam sikap akrobatik para pemuda/pemudi ( yang kebetulan multi etnis tersebut - tipikal sih keturunan para generasi pendatang di Perancis) dan diwujudkan dalam karya yang menarik.
Saya seperti terbayang untuk sambil mendengarkan musik jazz sewaktu melihat karya ini. Walau saya sendiri pecinta musik metal. Yeah! Metal yang penuh dengan ambisi yang bergejolak! toh sama dengan ambisi mereka ini.
Lihat karyanya :








Lihat sumber : web urbanist
Long long time ago sebelum diketemukan yang namanya Photoshop, (halah keminggris), seorang seniman surealis yang merupakan pionir di scene lukis dunia, Salvador Dali, telah melakukan eksplorasi genius tentang kolase visual secara fotografi. Foto yang terinspirasi karya lukisannya dengan judul Dali Atomicus (Dali Atomica Series), yang dibuat pada tahun 1948, semuanya dilakukan secara manual dan waktu take gambar yang terhitung lama (6 jam!) untuk menghasilkan karya jenius (dimasanya) ini.
Bekerja sama dengan Phillipe Halsman, Dali dan Halsman melakukan teknik dan trik seperti menggantungkan kanvasnya dari atas, dan sang istri dari si fotografer tersebut memegang kursinya, 3 ekor kucing yang dilempar ke udara oleh asisten Halsman, (sebanyak 28 kali dalam prosesnya- jangan tanya saya bagaimana nasib sang kucing) berbarengan dengan seember air, dan sang seniman sendiri yang melompat ke udara (berkali-kali dalam proses pengambilan gambar).
Sampai saat ini, karya itu masih dikenang sebagai salah satu karya klasik, dimana fotografi sureal juga mulai dikembangkan di masa itu.
Lihat karyanya :

It’s about self portraits. Untuk kemudian difoto dengan berbagai pose dan dikombinasikan dalam kanvas dalam warna, gestur dan elemen tambahan rasanya itu sudah lumrah dilakukan oleh seniman dimanapun dan kapanpun. Untuk kasus ini : Monica Cook, rasanya bisa ditenggarai sebagai kepenatannya akan menggunakan medium standar , menggunakan model yang dikhawatirkan mendistraksi ide-idenya, (sendiri sambil berkaca terus melukis sambil melihat dirinya sendiri :D), jadi dia memutuskan mem-foto dirinya dan menggunakan media kanvas sebagai transformasi visual akhir karyanya . Alhasil dengan menggunakan kamera digital, apapun serba mungkin (!).
Monica Cook, selain saya membahas proses karyanya (secara kebanyakan seniman sih) , juga ingin menekankan bagaimana visual yang muncul dalam karyanya. Melukis dalam kebanyakan seniman (rupa) memang merupakan bahasa eksplorasi, bahasa visual yang berbeda sensasinya dengan fotografi. Mengeksplorasi secara riil keadaan sebenarnya dari diri sendiri yang dilukiskan membutuhkan konsentrasi tinggi. Memadukan dengan warna cat tentu berbeda dengan keputusan menekan tombol kamera yang memperhitungkan cahaya juga. Saya melihat ada keberanian dari Monica Cook mempermainkan tone warna (yang hanya dua atau malah tiga ?). Ada kesan dimana munculnya tekanan yang tinggi ketika menggunakan model lukisan (orang lain) yang berarti harus mempertanggung jawabkan relasi kemiripan, ekspresi yang hidup dan lainnya. Sedangkan melukis diri (wajah) sendiri memang ideologi bebas dalam hal ini.
Monica Cook memang serius menggarap detil dalam hal ini. Figur yang dia pilih didominasi oleh gambar-gambar dirinya. Lukisannya belakangan ini cenderung surprise, menggerus keadaan dengan figur objek dirinya secara kontroversial yang dominan, lihat karyanya di sini : “The Pee Girl Series”. Secara sadar dia mencoba mempermainkan kondisi psikologis audien karya-karyanya. Cukup mengejutkan. Dalam bingkai pemahaman saya, karya ini belum mampu dipamerkan di Indonesia, banyak yang masih memandang seni rupa dalam bingkai pemahaman yang lain serta cenderung berseberangan dan tidak nyambung. Namun dalam kacamata barat hal ini biasa saja, cenderung ‘mengumpat secara visual’, namun tak tahulah jika berhadapan dengan kacamata politik kaum fundamentalis di luar sono :D.
Referensi visual yang baik ada dalam karya-karya Monica. Walau kita tak bisa mengesampingkan pengaruh pop art, juga seni lukis barat modern atau kontemporer pertengahan 70-an yang jauh lebih dulu melakukan eksplorasi figur dalam karya, ada kemiripan yang selaras dengan seniman-seniman Asia yang saat ini mulai maju. Melihat karya Monica Cook, saya jadi teringat seorang seniman Indonesia yang cukup terkenal ; Agus Suwage. Ada kemiripan, namun juga berbeda secara apapun.
Lihat sebagian karya Monica Cook :

Untitled 3 (Red Hair)/The Pee Girls Series/2007

Untitled 4 (Microphone)/The Pee Girls Series/2007

Self Portrait 1/Self Portraits Series

Self Portrait2/Self Portraits Series

Self Portrait3/Self Portraits Series
Cek disini : webesteem
Dalam bentuk apapun, seorang seniman, pereka visual, sampai pencari ide gambar akan menggunakan medium apapun dalam menghasilkan karyanya. Dalam kasus ini, bagi beberapa orang menggunakan medium Kamera Polaroid* (wisata ke Pantai, ke Bon-bin, kamera sekali jepret langsung cetak bayar 5000 perak - harga jaman dulu :D), acapkali menghasilkan suatu karya unik yang spontan, polos dan dekat dengan audiens sebagai keseharian. Seperti itulah apa yang hendak disampaikan oleh Piotr Zastróżny, seniman multibakat asal Warsawa, Polandia. Dirinya dalam berbagai perjalanannya keliling dunia selalu membawa perangkat kamera seperti Linhof Master Technika Classic, Leica M7, Polaroid dan Holga.
Ketika saya membrowse namanya dan menemukan karya-karyanya yang menarik dalam websitenya, saya melihat perbedaan yang mendasar. Ketika saya membahas di tulisan sebelumnya tentang cerita-cerita absurd karya fotografi seorang Maleonn Ma, kali ini saya berhadapan dengan seorang yang bekerja berdasarkan kecintaan akan instant result dari sebuah proses mekanisme pengambilan gambar oleh kamera polaroid lawas, dengan kata lain objek tidak berhadapan dengan make up, tata artistik pencahayaan dan lain sebagainya.
Ketika ditanya dalam interviewnya dengan situs ini, Zastróżny, mengatakan beberapa hal yang menjadikannya alasan untuk menggunakan media kamera polaroid ini (karena ini merupakan salah satu keahliannya, dan kebanyakan pada skala teknis) :
1. Hasil yang timbul dari kamera ini memberikan nuansa unik, perspektif yang berbeda dengan gambar yang dihasilkan lewat kamera canggih, kamera klasik sekalipun dengan hasil yang bisa dilihat saat itu juga.
2. Hasil ‘cacat’ yang diinginkan. Menggunakan film yang telah lewat tanggal penggunaannya, penggunaan digital camera pada resolusi tertentu yang menghasilkan gambar buram dan ‘kotor’ malah menghasilkan artistik tertentu yang sangat orisinil. Hasil semakin ‘gagal’ malah semakin bagus baginya.
3. Figur modern yang menjadi terasa lawas, dia mengatakan seakan mengambil gambar di tahun 70′an. Dengan pewarnaan spontan, klasik dan bahkan cendrung tidak cerah, malah menghasilkan karya dengan gambar yang diinginkannya.
4. Dan lainnya, sesuai maunya dia …
Dari beberapa kesimpulan yang diterangkan diatas, cuma sebagian kecil dari apa yang saya ketahui tentang pemilihan medium dalam berkarya rupa, apapun itu sudah cukup kuat. Saya yaqin seyaqin-yaqinnya, medium apapun mampu menghasilkan karya seni yang baik, dengan berbagai macam syarat tertentu bagaimana karya itu dapat dipresentasikan ke publik dalam koridor yang terhormat dan berbobot. Tentunya dengan premis seni itu sendiri .
Silahkan lihat beberapa karyanya disini :






Pictures taken from www.piotrzastrozny.com.
* Kamera Polaroid, merupakan produk unggulan dari Polaroid Corporation.
Cek websitenya disini :
piotrzastrozny | Live in Studio | Blognya | Festus
Saya membahas karya seseorang bernama : Magnus Blomster (30 tahun, kebangsaan Swedia).
Dengan bekerja harian pada bidang yang tidak ada hubungannya dengan creative arts, dirinya lebih senang mentahbiskan dirinya sebagai freelance illustrator. Dalam wawancaranya dalam situs ini, Magnus mengatakan betapa dia merasa tidak bisa belajar pemahaman seni dengan baik, biarpun dia menyelesaikan sekolahnya di bidang desain. Namun mempelajari ilustrasi dan Art Nouveau (kesukaanya sedari kecil), malah dilakukannya setelah lulus kuliah.
Secara teknis : dalam proses beberapa ilustrasinya, Blomster, lebih suka mengolah foto yang sudah ada. Dengan kata lain, model (dalam hal ini adalah pacarnya) yang difoto dengan pose-pose yang telah ditata, kostum dan juga terkadang tanpa busana, diolah dengan software illustrator (Adobe) dengan membentuk outline, dan diprint untuk menghasilkan karya cetak yang kemudian diolah lebih lanjut secara manual (pensil, pena) dan kemudian kembali diolah dalam software Adobe (Photoshop maupun Illustrator) untuk pewarnaan (ink).
Dalam hal ini, pilihan gaya yang dipakai seperti Style Art Nouveau yang dipadu dengan warna-warna sekarang yang cenderung minimalis. Dalam banyak hal sekilas mengingatkan kita akan karya kebanyakan (yang sempat trend tahunan lalu) , trace line dari figur wanita, namun yang menarik disini adalah proses dan hasil yang cenderung berbeda sendiri. Saya teringat pose-pose erotis dari karya-karya Gustav Climnt, cuma dengan cita rasa lebih global sekarang ini.
Beberapa karyanya telah dipakai untuk kepentingan beberapa industri rekaman dan fashion di Swedia. Dan dia sendiri mengatakan tidak terlalu menghiraukan upah yang dia terima untuk mengerjakan karya-karyanya, namun tampaknya dia sangat menyukai objek karyanya (nude female form) untuk selalu diolah.
Silahkan simak karya-karyanya :

Unknown

We Live in a Beautiful World

Pervert

Utopiate
Kunjungi informasi mengenai karyanya di magnusblomster.com (saat ini sedang dibangun)
juga galeri karyanya di : sagenlicht.deviantart.com | rasterized.org
*karya dan tulisan ini dimuat atas seijin yang bersangkutan.
Saya akan membahas seorang bernama Maleonn Ma yang merupakan seorang fotografer, juga seorang film-maker. Karyanya yang unik, simbolis, bergerak dalam bingkai teatrikal, naratif , serta metafora objek dan cenderung sureal, seperti menyaksikan karya-karya lukisan surealisme yang di-riil-kan dalam wujud fotografi.
Memasuki wilayah fotografi pada kisaran tahun 2004, pria kelahiran 1970 ini, telah menghasilkan kemajuan yang sangat berarti, selain didukung oleh pengalamannya sebagai Art Director dan Short Video Director mengakibatkan dia seringkali mengkonsepkan diri pada tema narasi cerita.
Memasuki wilayah fotografi adalah sama halnya mematutkan berbagai macam visual yang dibekukan dalam teknik foto untuk berbagai macam kepentingan. Fotografi merupakan salah satu bagian dari rentetan sejarah seni yang terkait dalam bidang penemuan atau invent, terus berkembang sejalan dengan teknologi hingga saat ini.
Fotografi Seni, salah satu acuan tematik karya dari Maleonn Ma ini,seorang seniman fotografi berkebangsaan China yang saat ini tinggal di Shanghai, yang dalam karya-karyanya 3 tahun terakhir ini, sangat eksperimental, penuh nuansa klasik dan tematik, yang terus terang, memang mengagumkan bagi saya sendiri. Informasi yang ingin saya dapat dari website pribadinya, mengakibatkan waktu yang ada dalam upaya membrowsing karya-karya seni lainnya terhenti hanya di situsnya saja.
Saya jadi teringat tokoh-tokoh fotografi dunia seperti Jan Saudek, Alfred Stieglitz, Ansel Adams, Nobuyishi Araki dan masih banyak (bertebaran di wikipedia, coba saja), termasuk termasuk tokoh lawas fotografi Indonesia, seperti Kassian Chepas, Alex dan Frans Mendur, Darwis Triadi, Jez O’Hare, Aries Lim dan lainnya yang masih banyak lagi. Termasuk fotografer Indonesia yang banyak menampilkan karya-karyanya di situs deviantart, flickr maupun website sendiri. Masih banyak seniman fotografi dunia dan Indonesia juga yang menampilkan tema selaras dengan pilihan Maleonn Ma. Tetapi keunikan sang fotografer yang kali ini saya bahas adalah, bagaimana dia mampu menciptakan narasi (seperti film) dengan para pendukungnya yang terdiri dari berbagai macam latar belakang, sutradara, movie-costume designer. Dalam hal ini, Maleonn, menciptakan sensasi visual yang penting dengan mengandalkan otentisitas ras atau figur yang dijadikan objek fotonya, tema yang absurd dan sosok-sosok ganjil dengan cerita men-dehumanisasikan sosok manusia. Dalam hal ini kita jangan melupakan wacana perkembangan seni rupa China yang saat ini sedemikian pesat di kancah Internasional, sehingga memicu negara-negara asia pasifik termasuk indonesia lebih dalam mengeksplor karya dan sounding yang mulai terasa di percaturan internasional.
Bagi saya Maleonn Ma sangat fascinating, tanpa harus mengandalkan opsi pilihan bertemakan urban yang ramai saat ini, sebenarnya karya Maleonn, justru jauh lebih hidup dengan nuansa klasik yang ingin disampaikan. Pewarnaan yang menjadi ciri khasnya, dan editing yang bagus, menghasilkan sebuah karya seni fotografi yang tajam, satir dan cenderung ‘dalam’. Dalam suatu kesempatan, Maleonn mengatakan jika berkarya dengan fotografi, seperti mewartakan dirinya yang ‘baru’ (the word ’self’ come back again into my language - Maleonn Ma) akan kesempatan mengambil gambar (foto), mengolahnya menjadi sebuah gambar artistik yang bercerita, ekspresi diri (menurutnya) dan ide yang cukup bebas, tidak normatif, tidak terikat dengan (secara ide) dengan kepentingan tangan lain. Semua itu lahir dari diri sendiri.
Walau saya yakin masih ada kepentingan komersil untuk cetak, iklan yang juga melirik karya-karya Maleonn, sesuai trah industri dalam fotografi, tetapi apa yang dihasilkannya cukup menarik untuk dijadikan referensi bagus, untuk mengenal fotografi seni ini.
Cuplikan karya Maleonn Ma :

Portrait Of Mephisto (series)/2007

Portrait Of Mephisto (series)/2007

Portrait Of Mephisto (series)/2007

My Circus (series)/2004

My Circus (series)/2004

Unforgivable Children (series)/2005

Chinese Story(series)/2007

Shanghai Baby (series)/2007

Deja Vu (series)/2006
*karya yang dicantumkan dalam tulisan ini dimuat atas ijin sang seniman.
Silahkan kunjungi website Maleonn Ma | Source 1 | Source 2 | Source 3
Karya seni yang baik, terkadang menampilkan sisi cerita muram yang cenderung dalam di karya-karyanya. Ataupun malah menampilkan cerita datar yang bergerak dalam visual. Tetapi alibi ini apapun klasifikasinya, mentah-mentah saja ketika dibahas dalam sebuah bedah karya. Seorang seniman sejatinya merupakan penulis cerita lewat visual yang ditampilkannya. Apapun bentuk karyanya, setiap seniman bertanggung jawab secara banyak sisi, teknis karyanya yang dijabarkan, epistimologi yang ditawarkan, wacana yang diusung, sampai sisi konsepsi karya seni itu sendiri.
Kali ini saya membahas tentang seseorang bernama Camille Rose Garcia. Seorang seniman Los Angeles yang karyanya dikategorikan sebagai Pop Surealis. Dengan menampilkan figur-figur comic dan animasi dan tokoh populer televisi di Amerika sana periode 1950 an. Karyanya menampilkan sosok-sosok kartun, makhluk-makhluk ganjil dengan upaya mengekspos cerita gelap tentang kekerasan, korupsi dan ketamakan. Dengan idiom yang diangkat Camille, sebenarnya, dia bercerita tentang horror di dalam masyarakat urban (contemporary society) - popular culture di Amerika (khususnya L A tempat dia tinggal).
Dalam wawancara yang dicuplik dari situs ini , Camille banyak menampilkan kisah hidupnya, bagaimana kecintaanya akan band-band punk, seperti D.O.A, The Vandals, The Germs dan lain-lainya yang menimbulkan sensasi ketertarikan visual akan image pemberontakan, horror, dan keterpengaruhan akan Los Angeles art- scene semenjak dia melihat karya-karya Mark Ryden, sampai memutuskan berhenti dari band untuk total berkarya seni. Termasuk pandangan politik dia soal keberpihakan pada upaya untuk melakukan pemberontakan sosial lewat karya-karyanya, kompromi karya yang lebih kepada bagaimana seni mampu menunjukkan kaidahnya untuk memiliki tanggung jawab sosial, dan cara pandangnya terhadap scene seni secara global untuk saat ini.
Karyanya (baik lukisan, mainan dan craft) adalah kombinasi, personifikasi cerita, dan kolase dari tokoh-tokoh dari Walt Disney, punk bands seperti Dead Kennedys, ilustrasi tokoh dan teks dari cerita-cerita yang ditulis sci-fi writer Philip K. Dick, atau ilustrasi erotis karya-karya Aubrey Beardsley, mitologi dan fairy tales, visual daripada sebagian Japanese art, termasuk karya-karya ukiyo-e (traditional japanese woodblock prints) dan animasi karya Yoshitomo Nara dan Takashi Murakami.
Barangkali ada baiknya kita mengikuti saran di situs ini. Karya-karya Camille adalah representasi bentuk dari visual gothic yang tragis secara komikal. Yang nampak disitu adalah surealisme a la Camille yang begitu kuat melakukan layering dengan tokoh-tokoh retro yang kebetulan merupakan imaji favoritnya.
Dalam wawancaranya, Camille menyebutkan motivasinya : I always wanted to do art that people could relate to but also carry some social relevance. Dan Camille sadar, dengan konsekuensi yang berpihak pada perlawanan (maklum aja besar di scene punk) , kritik tegas terhadap pemerintah Amerika sampai saat ini, dan penolakan-penolakannya terhadap proyek komersial (yang di mata dia sudah keterlaluan), sepertinya ada relevansi sosial yang diharapkan dari Camille lewat karya-karyanya yang di mata saya cenderung muram dan tragis ini. Pesan yang nampak adalah keberpihakan pada dunia tragis. Apapun bentuknya, sebenarnya dia menceritakan dan merepresentasikan banyak hal soal relasi sosial dunia yang dingin, suram dengan warna-warna lukisannya yang tergambarkan; dark under-tones.
Lihat karya-karya Camille dibawah ini :

“Royal Disorder Subterranean Invasion” / 2006

Escape Velocity/2006

Emergency Transport/Giclee and hand applied gold mica on paper

“Antarctic Suburban Outpost” 2006. Acrylic and glitter on wood, 48 x 48 inches.

“O.N.S. Escape Vehicle ” 2005. Acrylic and glitter on wood, 48 x 48 inches.

“The Deconstructionist Army” 2004

“Arctic Cavern Hideaway” 2005
Karya yang muncul disini ditulis atas ijin yang bersangkutan, dari situs ini : http://www.camillerosegarcia.com/, gambar-gambar lukisanya diambil dari situs ini, tulisan ini juga dimuat disitus blog yang satu ini.
Situs Camille Rose Garcia | contact

Fashion freak!
Tahun : April, 20/2007
Teknik : Spidol, stabilo, water color, retouch Adobe Photoshop
Dimensi : 25 cm x 10 cm
Tema :
“Karya ini ingin menampilkan hubungan manusia dengan teknologi yg sedemikian gencar saat ini.. dan saking gencarnya teknologi sudah menjadi sebuah kebutuhan untuk bergaya bahkan sudah menjadi suatu bentuk fashion baruu..dimana2 kita sudah melihat org nongkrong di cafe2 pasti ada yg memakai laptop/note book, walaupun hanya di gunakan untuk chating atau update ‘facebook’..
Beberapa item teknologi sudah menjadi seperti kewajiban untuk selalu ‘update’, seperti handphone,notebook,mp3 player, bahkan desktop pun! kl gk, bakalan di bilang ketinggalan jaman alias tidak gaul! (Saya pikir inilah bentuk-red. )Visual karya (yang-red.) ingin mewakili (konsep-red.)kekinian skrg.. “
(Steve/2007 - ilustrasi di tabloid Kontan)
Bahasan paling utama yang hendak Steve sampaikan pada visual ini adalah : Betapa Gadget (perangkat penunjang teknologi komunikasi dan informasi yang bisa dibawa-bawa kemanapun saja) memang merupakan pilihan perangkat utama bersosialisasi - selain lambang status dan gengsi juga saat ini. Memang apa yang diutarakan Steve disini merupakan simbolisasi dari sebuah pengantar narasi teknologi komunikasi jika manusia sudah mulai memesinkan dirinya. Apa yang dibahas sebenarnya merupakan problematika dan wacana kota besar, sebuah generasi baru yang hidup sehari-hari dalam bersentuhan teknologi.
Perangkat elektronik sebagai gaya hidup, merupakan pilihan primer, sampai sejauh ini. Lihat di perkampungan kumuh sekalipun, sebuah keluarga memang lebih mementingkan televisi sebagai wahana hiburan dibandingkan memiliki biaya buat renovasi kamar, lantai bahkan untuk menunjang perbaikan atap rumah yang bocor sekalipun. Sedangkan pada kelas yang lebih menengah pilihan teknologi bersanding dengan kebutuhan sehari-hari untuk memenuhi tuntutan informasi. Jikalau pada kelas atas ? fungsi gadget, perangkat penunjang komunikasi dan teknologi informasi justru lebih kentara sebagai pelengkap gaya hidup- fashion, hal ini ditandai dengan pertukaran mode dan kecocokan disamping kebutuhan komunikasi dan informasi.
Saya melihat ada misi khusus yang diusung oleh Steve dibalik karyanya ini. Steve memaparkan satu entitas tentang pilihan gaya hidup dengan gadget terkini yang bisa dikategorikan sebagai : TECHNOSEXUAL. Sebuah pilihan gaya hidup berorientasi asas kecintaan dan pemujaan terhadap teknologi terkini, dan berdasarkan orientasi gaya hidup melek teknologi dan haus serapan informasi. Ketika uang berlimpah ditengah hujan ekonomi booming IT periode tahunan lalu, sadar tidak sadar imbas para generasi yang bersentuhan dengan teknologi informasi menjadikan mereka faham dan sadar sekali arus fashion yang bergelombang menuju pemanfaatan perangkat teknologi sebagai penunjang hidup. Toh tidak ada yang salah, dengan kecenderungan memuja perangkat gadget ini sebagai penunjang fashion, gaya hidup, tetapi kita tetap menghargai pilihan mereka tersebut.
* karya ini merupakan hak cipta Steve yang terkait dengan kepemilikan gambar selaku ilustrator di tabloid Kontan dan pernah dimuat sebagai ilustrasi bahasan tulisan yang sama di tabloid yang sama.

Setan Komersil/Punjabi’s Attack/2007
Medium : Olah Digital
Dimensi : 640 x 1024 px
Tema :
“Lagi lagi pemuasan visual semata, dengan sedikit mengambil tema menjamurnya film-film yang benar-benar ” MENAKUTKAN (!)“. RP for Rp
- Giri 2007″
Lucu dan Getir juga memang terkesan konyol. Giri disini mencoba menciptakan nuansa humor. Apa yang dibuat sebenarnya memang sangat citarasa lokal, dengan taste keminggris
. Secara konteks, visual yang diajukan sebenernya merupakan personifikasi dari ke-muak-annya atas tayangan tak bermutu di televisi akhir-akhir ini. Giri memang berbicara atas nama jemunya konsumen televisi terhadap tayangan tak bermutu baik itu dalam bentuk sinetron dan acara televisi di Indonesia. Masalah langsung muncul ketika nama Raam Punjabi disebut dalam karya ini. Seperti yang sudah-sudah, Multivision Plus dengan Punjabi sebagai nahkodanya, merupakan salah satu penguasa tayangan hiburan di televisi di Indonesia. Sebagai rumah produksi untuk Sinetron, tayangan Infotainment, film-film lokal bertemakan horor Asia (Indonesia), Punjabi sukses mengangkangi singasana tunggal penguasa dan pemproduksi tayangan layar lebar dan televisi di Indonesia.
Masalah yang timbul, selepas bicara kesuksesan Klan Punjabi dan kerabatnya adalah : mutu produk yang dihasilkan. Banyaknya kritik, hinaan, cacian dan bahkan kutukan tak selangkahpun menyurutkan niat Punjabi untuk terus gencar mendorong anak buahnya giat berkarya demi memberikan tontonan di televisi di Indonesia. Walau nada miring akan hasil tayangan yang diproduksi adalah sinetron-sinetron hantu (musiman), orang kaya yang luar biasa kayanya dan cerita kejahatan keluarga yang sangat tidak masuk akal di Indonesia, perselingkuhan sana-sini yang mudah tertebak alurnya. alah satu subjek yang dibahas disini adalah film horror. Horror yang diusung Klan Punjabi adalah horror kebanyakan (gak masuk akal malah) , dengan cerita yang makin lama makin ga mutu , hantu-hantu standar semua, alhasil segala thesis Punjabi jadi mentah ketika dia (katanya) mencoba menyelipkan unsur pendidikan. Bagaimana buat mendidik kalau segala yang ditayangkan adalah tontonan kelas kacang seperti itu. Rupiah untuk rupiah.
Saya jadi ngelantur. Tentang poster art rekaan karya Giri ini adalah pukulan telak tentang keberpihakan Televisi terhadap film atau sinetron horror produksi lokal lewat multivision plus pimpinan Raam Punjabi ( yang berubah nama jadi Junktrash Punjabi :D). Secara ide, mungkin ratusan orang sebelum Giri sudah mencoba menyerang sistematika klan penguasa tayangan sinetron di Indonesia itu, tetapi secara visual, Giri berhasil memberikan surprise senyum lewat humor yang dikemas olehnya. Cobalah main-main ke situs ini, saya yakin apapun yang dihasilkan multivision plus bisa mendapat predikat kancut lima + nanah. Dan Giri bakal kebagian order bikin poster buat mencela perfilman Indonesia yang aneh-aneh di situs itu.

Neraka Jahanam/Savage Hell/2007
Teknik : Olah Digital
Dimensi : 643 x 1024 px
Tema/Konsep :
“Menemukan foto artis UCOK AKA & AHMAD ALBAR di sebuah majalah wanita Indonesia, rasanya sungguh menarik untuk diolah, sekedar pemuasan visual belaka.. - R Giri Fitrajaya/2007″
Sekali lagi, ini adalah buah keseriusan dari fanatisme terhadap hal-hal yang vintage sehingga berbuah kreatif. Menghasilkan kepuasan visual dari seorang pemuja visual dari sebuah grup lawas : Duo Kribo. Bagi yang kurang akrab dengan nama itu, mungkin bisa dimaklumi, adalah Duo Kribo, salah satu superstar rock Indonesia pada medio 70′ an yang mencuat dalam beberapa tembang lawas yang telah melegenda seperti : Neraka Jahanam, Aku Harus Jadi Superstar , Pelacur Tua dan berikut film-film yang laris manis tumpah ruah penonton (di masanya loh!) yang dibintangi dua orang personil Duo Kribo ini : Achmad Albar dan Ucok AKA.
Saya tidak tahu pasti, tetapi fanatisme kuat yang Giri lakukan terhadap sesuatu yang orisinil - Indonesia aseli (seperti karya-karya grafis 70′an), kecintaan terhadap musik lawas, kerap membangkitkan terjemahan karya yang unik, lucu dan menggugah. Kecintaan terhadap visual dan orisinalitas yang membangkitkan kemampuan Giri ‘tuk berkarya akan visual vintage yang unik ini. Intinya asal unik dan lokal, Giri dengan senang hati mengolah lebih lanjut, asal ada bahan hehehe.
Berbicara tentang Surealisme dalam sebuah karya seni lukis, pasti lebih tepat diasosiasikan dalam sebuah penerjemahan visual sebuah mimpi atau khayali sang seniman. Jauh dari itu, dalam konteks pembelajaran tentang seni rupa, genre surealisme adalah sebuah cikal bakal turun temurun yang telah berumur panjang, bagaimana fantasi sebuah dunia yang ideal dimata seseorang dapat diterjemahkan, baik tentang elemen-elemen asburditas, pembengkokan visual, dan efek kejutan yang menghadirkan berbagai macam aspek dalam visual.
Bagaimana dahulu seorang Salvador Dali, telah berkutat dalam dunia yang ‘ideal’ menurut dia, bagaimana Rene Magritte bercerita tentang paradoks makna, ilusi psikologis yang hendak disampaikan sehingga menimbulkan polemik tanpa sekedar menelan bulat-bulat visual yang disampaikan. Bagaimana lekatnya dunia realis dalam paparan imaji yang saling dibengkokkan sehingga menimbulkan sensasi dahsyat tentang cerita-cerita dalam visual dunia fantasi. Masih ada Max Ernst, Joan Miro, Escher dan sebagainya.
Kali ini yang ditulis disini; Jacek Yerka. Generasi Surealis era sekarang, kelahiran 1952 di Polandia. Pampangan karaynya disini menjadi terasa penting ketika dia mulai menambahkan idiom khayali, cerita kisah dan angan-angan masa kecil yang ternyata sangat berpengaruh terhadap visual lukisannya. Bagi saya, mungkin seniman-seniman negara dunia ketiga, bahkan di Indonesia lebih banyak lagi dengan membawa pengaruh fantasi dan mimpi ‘mistis’nya kedalam kanvasnya, namun secara harafiah dari apa yang saya lihat, karya Yacek Jerka malah memberi cerita fantasi, seperti ilustrasi dari sebuah cerita dunia yang bersambung dalam setiap lukisannya. Saya tidak tahu, tetapi bagi saya, Jacek Yerka cocok sekali membuat buku cerita visual fantasi . Saya jadi teringat karya-karya Frank Frazetta, yang hampir semuanya berkisar tentang pejuang pria dan wanita kekar di jaman medieval yang selalu bertarung dengan monster-monster, mungkin jauh juga dalam frame garda seni, tetapi secara garis besar kemiripan itu selalu tersirat.
Poin penting dari sebuah detail visual, garis, bentuk benda, terlihat dalam karya-karyanya yang semuanya menggunakan medium akrilik, oil on canvas, pastel dan giclee (zhee-clay) - sebuah cetak digital ke atas kanvas, ataupun kertas. Sekali lagi Jacek Yerka memang menterjemahkan fantasi dengan sangat mengagumkan. Tema visual yang selalu hampir seragam adalah bagaimana menterjemahkan bentuk organis (monster, kerang, hewan reptil) kedalam bentuk mekanis dan masif (mesin, rumah dan alat teknis).
Mungkin jauh secara ide dan persoalan yang hendak disampaikan Yerka, dibandingkan para penggagas seni visual dunia mimpi ini, tetapi dalam konteks sekarang persoalan visual lewat manual tetap memberikan greget tersendiri, upaya tersendiri yang memberikan penghargaan terhadap potensi berpikir (khayal) manusia.
Lihat Karyanya :

“An Uninhabited Island”

“The City is Landing”

“The Landscape Cutter”

“The Riders of Chaos”

“The Stone and the Brick”

“The Sargass Sea Bishop”

“The Walking Lesson”

“Brontosaurus Civitas”
Silakan lihat website Jacek Yerka di halaman ini : Jacek Yerka and Dark Roasted Blend about Fascinating World of Jacek Yerka.
Semua gambar dan tulisan tentang Jacek Yerka, dimuat atas ijin pihak berwenang dan diarahkan ke situs http://www.yerkaland.com dan situs http://www.yerka.pl
Tulisan ini juga dimuat di situs blog yang satu lagi.

Perang Melawan Hawa Nafsu /War Against Appetite/2005
Oil on Canvas/120 x 130 cm
Konsep :
Dalam konteks Agama , hingga saat ini, hawa nafsu merupakan musuh yang paling sulit untuk ditaklukan. Dia akan waspada setiap saat untuk mencari celah menghancurkan keimanan manusia, dia terlahir dan terpelihara beserta akal budi dan nurani kemanusiaan. Seperti layaknya vaksin, dibutuhkan untuk menjalankan insting bertahan, namun dijauhkan ketika dia mulai menghancurkan hidup dan masa depan manusia.
Perang adalah alter ego manusia ketika menjadi iblis, menghancurkan umat lain yang berseberangan pendapat, dengan menjadi iblis yang disemai oleh hawa nafsu tergelap manusia.
Bagaimana dengan syahwat? naluri manusia soal yang ini sudah setua umur kaum manusia itu sendiri, terlahir dengan tujuan bereproduksi dan di era sekarang sudah di modifikasi menjadi kebutuhan penunjang hidup manusia.

