It’s about self portraits. Untuk kemudian difoto dengan berbagai pose dan dikombinasikan dalam kanvas dalam warna, gestur dan elemen tambahan rasanya itu sudah lumrah dilakukan oleh seniman dimanapun dan kapanpun. Untuk kasus ini : Monica Cook, rasanya bisa ditenggarai sebagai kepenatannya akan menggunakan medium standar , menggunakan model yang dikhawatirkan mendistraksi ide-idenya, (sendiri sambil berkaca terus melukis sambil melihat dirinya sendiri :D), jadi dia memutuskan mem-foto dirinya dan menggunakan media kanvas sebagai transformasi visual akhir karyanya . Alhasil dengan menggunakan kamera digital, apapun serba mungkin (!).

Monica Cook, selain saya membahas proses karyanya (secara kebanyakan seniman sih) , juga ingin menekankan bagaimana visual yang muncul dalam karyanya. Melukis dalam kebanyakan seniman (rupa) memang merupakan bahasa eksplorasi, bahasa visual yang berbeda sensasinya dengan fotografi. Mengeksplorasi secara riil keadaan sebenarnya dari diri sendiri yang dilukiskan membutuhkan konsentrasi tinggi. Memadukan dengan warna cat tentu berbeda dengan keputusan menekan tombol kamera yang memperhitungkan cahaya juga. Saya melihat ada keberanian dari Monica Cook mempermainkan tone warna (yang hanya dua atau malah tiga ?). Ada kesan dimana munculnya tekanan yang tinggi ketika menggunakan model lukisan (orang lain) yang berarti harus mempertanggung jawabkan relasi kemiripan, ekspresi yang hidup dan lainnya. Sedangkan melukis diri (wajah) sendiri memang ideologi bebas dalam hal ini.

Monica Cook memang serius menggarap detil dalam hal ini. Figur yang dia pilih didominasi oleh gambar-gambar dirinya. Lukisannya belakangan ini cenderung surprise, menggerus keadaan dengan figur objek dirinya secara kontroversial yang dominan, lihat karyanya di sini : “The Pee Girl Series”. Secara sadar dia mencoba mempermainkan kondisi psikologis audien karya-karyanya. Cukup mengejutkan. Dalam bingkai pemahaman saya, karya ini belum mampu dipamerkan di Indonesia, banyak yang masih memandang seni rupa dalam bingkai pemahaman yang lain serta cenderung berseberangan dan tidak nyambung. Namun dalam kacamata barat hal ini biasa saja, cenderung ‘mengumpat secara visual’, namun tak tahulah jika berhadapan dengan kacamata politik kaum fundamentalis di luar sono😀.

Referensi visual yang baik ada dalam karya-karya Monica. Walau kita tak bisa mengesampingkan pengaruh pop art, juga seni lukis barat modern atau kontemporer pertengahan 70-an yang jauh lebih dulu melakukan eksplorasi figur dalam karya, ada kemiripan yang selaras dengan seniman-seniman Asia yang saat ini mulai maju. Melihat karya Monica Cook, saya jadi teringat seorang seniman Indonesia yang cukup terkenal ; Agus Suwage. Ada kemiripan, namun juga berbeda secara apapun.

Lihat sebagian karya Monica Cook :


Untitled 3 (Red Hair)/The Pee Girls Series/2007


Untitled 4 (Microphone)/The Pee Girls Series/2007


Self Portrait 1/Self Portraits Series


Self Portrait2/Self Portraits Series


Self Portrait3/Self Portraits Series

Cek disini : webesteem