Judul di awal bahasa Perancis itu artinya The Fall. Terus terang, saya mengalami kesulitan karena referensi tentang Denis Darzacq, yang tadinya saya dapat, adalah situs dirinya dalam bahasa Perancis. Jadi, kalau mau mengartikan konsep yang ditulis langsung oleh dirinya, terus terang saya cuma bisa jawab: wallahualam. Namun, secara yang sudah-sudah, bahasa fotografi adalah bahasa visual (seni) yang melintasi batasan kendala berbahasa, asas berpikir hingga bangsa. Jadi kesimpulannya, ya simak karyanya saja.

Melakukan pengambilan gambar dengan menggunakan para street dancer ( bukan penari latar lagu2 dangdut loh) , melompat, menjejakkan kaki ke dinding dengan pose yang selalu melawan gravitasi atau melayang hanya beberapa inchi di atas tanah dengan pose yang rawan (jika jatuh ya kepala bocor atau patah kaki, terlebih muka benjut), siapa sih yang tidak terkesima?. Dari situs world press photo, ada cuplikan tentang Paris Street Dancer – karya Denis Darzacq, yang bisa disimak disini :

Paris street dancers display their skills at breakdancing, capoeira and other personalized dance forms. Breakdance evolved as part of the hip hop movement among African American youths in New York City in the 1970s, and is arguably the best known of hip hop dance styles. Capoeira is derived from a Brazilian martial art. Although dances may involve a known range of positions or steps, they are unstructured, highly improvisational expressions of individual technique.

Gaya ekstrim , yang dimunculkan oleh para profesional ini, ditangkap dengan jeli oleh Denis. Awalnya saya menyangka mereka melakukan trik dengan menggantung dirinya dengan kabel atau kawat beton yang kemudian biasanya diedit ulang (digital) dengan melakukan pengambilan gambar dengan dua objek secara bersamaan. Ternyata tidak, mereka langsung beraksi. Pada dasarnya, Denis mencoba menangkap keindahan dari sebuah momen yang dibekukan. Sebuah momen yang sangat urban, sebuah pemahaman tentang gerak yang kerap bertolak belakang dalam relasi individu masyarakat (Perancis) yang beraktivitas secara rutin. Dengan mengambil background sudut-sudut kota, Denis telah menaklukan monotonisme – ‘dingin-nya” kota dengan melakukan naluri estetika para street dancer ini. Visual yang liar, mendebarkan, penuh improvisasi dan spontanitas teknik (olah tubuh) yang mengagumkan dalam melawan beban gravitasi.

Saya seperti tertawa geli, ketika World Press Photo menganugerahkan penghargaan kepada Denis, dan meminta klarifikasi nama Dance Company yang menjadi modelnya. Yang empunya karya malah tidak bisa menjelaskan, karena ini adalah kerja kolektif antara seniman dan sekelompok street dancer di Paris. Dan lagi, dirinya memang ingin mengkondisikan situasi yang berbeda, simak katanya :

“I hate this visual idea of Paris as a baguette or Catherine Deneuve carrying a bunch of flowers,That’s why we lost the Olympics. I’d like us to be able to speak of modernity without blushing.”

Itulah modernitas yang hendak disampaikan Denis, dengan jeli dan berhati-hati (untuk tidak membicarakan kerusuhan rasial di Perancis tahun 2005 waktu itu), dia merekam sikap akrobatik para pemuda/pemudi ( yang kebetulan multi etnis tersebut – tipikal sih keturunan para generasi pendatang di Perancis) dan diwujudkan dalam karya yang menarik.

Saya seperti terbayang untuk sambil mendengarkan musik jazz sewaktu melihat karya ini. Walau saya sendiri pecinta musik metal. Yeah! Metal yang penuh dengan ambisi yang bergejolak! toh sama dengan ambisi mereka ini.

Lihat karyanya :

Lihat sumber : web urbanist