Ini adalah sebuah wawancara mindstreet dengan Nani, seorang scenester art, Desainer Grafis, Artistik Enthusiast, apapun namanya, yang sudah lumayan lama saya kenal dari dunia maya. Dia juga seniwati , seniman/desainer dari Surabaya yang sedikit cukup aktif dan lumayan sering berpameran kelompok. Baru-baru ini dia telah melakukan solo exhibition yang (katanya sih sukses :)) cukup sukses. Check saja di sitenya disini : designani. Pada akhirnya, saya berhasil mengumpulkan waktu yang terserak disela-sela aktifitas padat saya untuk mewawancarai dirinya via email (!) seputar karya dan pandangannya tentang aktivitas berkesenian sekarang. Berikut hasil wawancara yang telah saya kumpulkan :

1. Bisa diceritain gak, sekilas biografi, background pendidikan kamu ?? dan kenapa kamu terjebak di dunia artistik seperti ini😀
Baru graduate September 2007 sebagai Bachelor of Visual Communication Design di UKPetra Surabaya. Hhhmm…mulai terjebak,terjebak, Saya benar2 sudah terjebak dari dulu ,tapi belum menyadari bahwa itu berkaitan dengan namanya seni, waktu kecil saya suka coret2 dimanapun, daripada ditangkap, saudara mengusulkan untuk sekolah dijurusan DKV yang waktu itu masih tergolong baru di sby. Dan untuk dunia artistik, itu berdasarkan pikiran saya yang sudah absurd, waktu kecil saya suka berkhayal, mengarang, senang melihat bentukan2 aneh…’feel’nya keluar begitu saja
.

2. Gue tertarik sama karya kamu , graphic novel (buku seni) yang judulnya, Murus. Ada hal yang spesial tentang itu ? baik pemilihan tema atau konsep visual ? and what technique ?ada keinginan buat dipublikasikan seperti dicetak atau bahkan diperbesar dan dibagi dalam beberapa caption, ceritakan saja🙂
Murus dalam bahasa latin berarti dinding,asal kata Mural. Murus sendiri terdiri dari dua bagian dimana pertama bercerita anak bernama Tole yang trauma terhadap dinding karena disembunyikan oleh ibunya ketika bekerja sebagai wanita penghibur dan cerita tentang mereka yang diwakili oleh Boi pemuda dengan kehidupan keluarga yang berantakan. Kedua cerita ini berkaitan,mengangkat fenomena2 sosial seperti perselingkuhan, vandalisme, pelacuran, pengorbanan, kerja sama. Bahasa verbalnya mengunakan ungkapan-ungkapan yang bersifat personifikasi, metafora maupun narasi serta beberapa puisi untuk melengkapi visualnya. Sedangkan tekniknya adalah sketsa,cat air dan penggolahan digital. Ditambah dengan pewarnaan kusam dan kotor.Sedang mencari penerbit, mungkin ada masukan bagus? tentunya saya berharap buku ini menjadi wacana yang berbeda diantara trend novel-novel remaja yang sedang bergejolak.



3.
To the point aja, bagaimana pendapat kamu secara saat ini batasan art dan desain lebur dalam periode sekarang, sehingga di masyarakat maju (modern) penerimaan tentang hal ini sudah lumayan apresiatif. Sedangkan dalam konteks akademis, wacana ini sudah dianggap lumrah, dan bahkan menjadi salah satu mata kuliah tersendiri.
Saya tidak akan berbicara banyak mengenai hal ini. Mengenai batasan-batasan seni dan desain, siapa yang tahu. Saya pikir semakin ada batasan, semakin kita terkungkung. Namun yang terjadi di Indonesia adalah mengenai kurangnya tanggapan khalayak terhadap art itu sendiri. Para seniman bahkan memilih berkarya dinegeri orang untuk mendapat lebih pengakuan.

4. Gue liat gejala dan gerak yang hampir seragam antara scene bandung, yogya dan surabaya ( kota-kota besar yang memiliki akses informasi global dan pendidikan seni yang terstruktur), kalo seni dalam aplikasi apapun ( street art, grafiti, drawing, ilustrasi distro, sneaker art, stencil art dll dll dll) menjadi banal (alias biasa) karena penerimaan masyarakat yang cenderung terbuka. Bagaimana pendapat loe ? apakah ini emang suatu trend karena pengaruh media dan informasi ? atau memang keharusan sebagai generasi ( yang bercita rasa artistik) sekarang ?
Semua berperan baik. Saat ini fenomena yang terjadi banyak anak2 muda Indonesia yang menjadikan kegiatan2 tersebut bagian dari lifestyle. Mereka mengikuti arus trend dari luarnegeri. Referensi dan internet sangat mempermudah untuk melihat perkembangan artistik di sana. Dibuktikan mulai muncul banyak pameran, kegiatan, komunitas2 bahkan kompetisi yang benar2 menyemarakan.

5. Apakah saat ini di kamu selalu merasakan ‘beban’ konseptual kalau berkarya ? dengan kata lain, motorik aja bikin karya trus baru mikir ? atau so be it , serahkanlah pada kurator yang berbicara nantinya ?
Kata ‘konseptual’ lebih saya tekankan pada profesi saya sebagai designer graphic, dimana saya bekerja dengan client dan menekankan komunikasi. Disana terkadang muncul kejenuhan dengan semua yang berkonsep dan akhirnya mengeluarkan idealisme saya dalam seni. Namun karya tanpa makna dan pesan adalah kosong. Walaupun keabsurdan saya tidak dimengerti oleh orang awam, tetapi ketika mereka bertanya,saya akan senang hati untuk menjawab apa makna dibalik karya saya. Dan kurator yang berbicara tentu juga mendengar dari sudut pandang saya.

6. Mural pada solo exhibition kamu, bagus juga. Ramai namun seragam, intinya sih rapih. Sepertinya kamu bisa lebih ‘buas’ kalo berkarya di area/medium yang lebih luas. Bisa jelaskan kenapa tertarik dengan medium yang dimensinya kecil dan teknik yang konvensional (cat air, atau teknik lain yang umum dalam ilustrasi). Dengan lokasi di sebuah distro, kemungkinan menjual itu ada. Dengan kata lain, dalam kemasan artistik macam apapun, kamu bisa ‘jualan’ sebenarnya🙂
Beragam media dan tekniknya saya tidak akan membatasi. Bisa dicoba semua. Cat air, acrylic, crayon, kolase, apapun itu. Intinya saya memilih fleksibel terhadap semuanya.

7. Ada keinginan buat terus berkarya gak ? berpameran dengan seniman-seniman Pop Surealis yang jadi mega-star di majalah Juxtapoz, pameran di La Luz de Jesus Gallery? Saya yakin ada jalan buat menuju sana. ( semoga ga mimpi ya menembus pasar seni di Amerika :))
Teruuuuus….kecuali saya tidur. Heehehuhe..Masih banyak yang harus dikerjakan untuk mencapai semuanya. Semoga karya saya bisa terpajang di gallery-gallery luar negeri sana.Bolehlah sekalian memajang impian.

8. Ini pertanyaan terakhir sebelum selesai, Karya kamu itu ‘girly’ banget. Emosi dan aspek ketertarikan digambarkan disitu, saya harap kamu tidak stress dan ‘kelam’ terus berkarya brilian sebelum mati di usia muda😀. Apa kamu ga tertarik dengan eksplorasi medium yang lebih lanjut seperti sculpture, big mural, instalasi dan lainnya ??
Selagi usia muda banyak kesempatan. Seperti saya bilang tadi, apapun mediumnya saya selalu tertarik untuk mencicipinya.

9. Kamu punya pesan gak buat seniman-seniman tenar di sono :D??
Terus berkarya dan selalu memberikan saya inspirasi, kalau ada waktu mari kita ke dufan bareng…hehehe

Sekian tulisan ini dan kita nantikan saja, keuletan dan keseriusan dirinya akan menghasilkan sesuatu yang terlahir dalam bentuk karya yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan dengan utuh.

Silahkan kunjungi blognya di sini : http://designani.blogspot.com/, gambar diambil dari situsnya.