Pemahaman tentang suatu karya, dan pengalaman menangani material yang terkait dengan junk, sampah dan besi-besian selama puluhan tahun mengakibatkan ada semacam feel yang terasa sangat profesional dan brilian. Ini yang saya lihat dari salah satu sculpture terbaru sang seniman senior Jepang : Chu Enoki. Dalam sitenya, karya-karya Enoki mengingatkan saya akan keperkasaan gerakan pop dan kontemporer yang melanda dimensi ruang seni di Asia (Jepang khususnya) dan Amerika di pertengahan 70 an dan 80 an. Tak heran, tak berlebihan publik seni menjulukinya sebagai salah satu tokoh avant-garde di Dunia Seni Rupa Jepang.

Karya berjudul RPM-1200, a futuristic, crescent-shaped skyline made with pieces of junk metal polished to a brilliant shine. Dengan dimensi yang …wow …tinggi 11 kaki dan lebar 15 kaki. Dapat dibayangkan ketelatenan seorang Enoki yang merangkai dan mem-polish kepingan satu persatu sehingga dapat terlihat seperti baru.

Terlepas dari Utopia, Dystopia atau apapun, karya Chu Enoki mungkin seperti mimpi seorang Seikh Mohammed, pemimpin Dubai untuk mewujdkan mimpi negaranya yang canggih dan futuristik dan selalu memberikan impresi yang luar biasa bagi masyarakat awam. Tetapi dalam kategori apapun, Enoki sukses memposisikan dirinya dengan karyanya yang melahirkan statement tentang utopia kota futuristik itu sendiri.

Cek karyanya di sini dan sini